Pernahkah Anda mendengar istilah “Leadership Development”? yang artinya: pengembangan kepemimpinan. Istilah ini sering dipakai oleh orang-orang untuk memberikan training atau pelatihan kepada pemimpin di dalam organisasi gereja dan lain sebagainya. Saya pun selama ini sering sekali menggunakan istilah ini secara tidak sadar. Tetapi kita tahu bahwa ini mungkin hanya sekedar redaksional atau penamaan saja.
Namun, setelah saya pikirkan lebih dalam lagi, penamaan itu juga adalah sebuah harapan, perwakilan dari keinginan hati kita. Kita berharap program pengembangan kepemimpinan tersebut membawa perubahan atau peningkatan di dalam cara memimpin dari orang-orang yang mengikuti program itu.
Namun, jika kita melihat konsep “leadership development”, kita perlu bertanya, mana yang lebih dulu: pemimpin atau kepemimpinan? Tentu saja secara logika sederhana kita tahu kalau kepemimpinan itu lahir dari seorang pemimpin. Jadi secara sederhana jika kita ingin mengembangkan kepemimpinan, maka yang harus kita bangun pribadi sang pemimpin.
Oleh karena itu narasi tentang pengembangan kepemimpinan sudah seharusnya kita ganti menjadi: pengembangan pemimpin.
Jatuh dan bangunnya sebuah organisasi ada di tangan pemimpinnya.
Walaupun kita tahu, bukan hanya pemimpin saja yang memiliki kontribusi yang efektif dalam operasional sehari-hari. Ada staf, ada tim, ada bagian-bagian organisasi lainnya dalam struktur yang ikut berperan secara efektif. Namun memang arahan visi tujuan dari semua operasional tersebut didapatkan dari sang pemimpin.
APA YANG DIKEMBANGKAN?
Jadi kalau kita ingin mengembangkan pemimpin, pertanyaan yang harus kita jawab kalau bisa di sederhanakan adalah dua hal; yaitu apa saja yang kita perlu kembangkan? Dan bagaimana kita mengembangkannya?
Salah satu sasaran paling utama di dalam melakukan pengembangan pemimpin, biasanya adalah pengembangan karakternya. Saya percaya, memang karakter adalah komponen yang sangat esensial sangat fundamental dalam diri seorang pemimpin. Namun karakter sendiri itu, menurut saya, bukanlah fondasi kepemimpinan yang solid.
Apa alasannya? karena karakter itu datang dari seorang pribadi. Artinya kalau kita ingin memiliki karakter yang luar biasa baik, luar biasa mulia, kita harus menjadi pribadi yang seperti itu dulu dan itu tidak bisa kita buat-buat atau pura-pura. Itu harus keluar dari hati yang benar-benar sudah menghidupi, sedang menghidupi, dan akan terus menghidupi dalam waktu yang cukup lama, sehingga karakter itu sudah menjadi bagian dari pribadi orang tersebut.
Sehingga, ada yang lebih fundamental dari karakter, yaitu hati si pribadi itu sendiri. Sebelum seseorang punya karakter bertanggung jawab, ia harus lebih dulu memiliki hati yang bertanggung jawab. Terus menghidupi dan mengekspresikan tanggung jawab dalam segala hal, sampai itu menjadi karakternya. Pertanyaannya, siapa yang memiliki semua karakter mulia yang sudah dan terus
HATI SEORANG PEMIMPIN
Salah satu hal yang membuat manusia (dalam hal ini, pemimpin) sulit untuk membangun karakter yang mulia, adalah karena hati setiap manusia (termasuk pemimpin) sudah dipengaruhi oleh dosa. Sekuat-kuatnya kita coba membangun karakter yang mulia, tetap terkadang dosa di hati kita muncul untuk menghambat, mengkorupsi, dan mengkontaminasi.
Jika semua manusia (dan semua pemimpin) tidak sempurna hatinya karena dosa, maka siapa yang sanggup menjadi pemimpin dengan karakter mulia yang seutuhnya? Itu sebabnya kita tidak perlu heran kalau mendengar pemimpin-pemimpin besar di bidang apapun (termasuk rohani), setelah semua hal hebat yang mereka tampilkan, ada “cerita gelap” muncul di balik kepemimpinan mereka.
Di dalam kekristenan, kita percaya, hanya Yesus yang bisa menjadi manusia seutuhnya dengan hati yang bersih sempurna. Itu sebabnya, kepemimpinan yang tidak didasarkan kepada Kristus, pada akhirnya akan menyeleweng karena mustahil membangun karakter dalam kepemimpinan, tanpa Kristus menjadi core dan dasar hidup kita.
Hati yang ditundukkan dalam Kristus dan hati yang terus-menerus dibawa kepada Kristus, yang memungkinkan kita untuk bisa meneladani karakter Kristus dalam kepemimpinan kita. Semuanya dimulai dari hati, dan karena itulah hati kita harus punya Kristus di dalamnya.
Jadi, kalau ditanya, apa yang perlu terus dikembangkan pada diri seorang pemimpin? Menurut saya, terlepas dari skill, cara berpikir, dan berbagai keahlian kepemimpinan, maka yang sangat fundamental untuk terus dikembangkan pada diri seorang pemimpin adalah: hati yang memiliki dan tunduk kepada Kristus senantiasa.
NEXT EVENT:
Tahukah kamu kalau setiap orang punya trauma dalam kadar yang berbeda-beda?
Dan itu sedikit banyak bisa menghambat kehidupanmu loh!
Yuk belajar tentang trauma dan bagaimana mengelolanya. Segera daftar, tiket terbatas.
Ericko Tandayu
Ericko mendalami dan memiliki pengalaman dalam kepemimpinan (formal dan informal) sejak tahun 1997. Saat ini bekerja di LeaderSource Indonesia dan aktif membimbing anak-anak muda dan orang dewasa untuk mencapai potensi maksimal mereka. Ericko juga mengelola podcast Luar Dalam sebagai warisan iman untuk kedua anak perempuannya.
