Sebuah buku kepemimpinan, menyatakan bahwa sekitar 50% masalah yang terjadi dalam sebuah organisasi, berasal dari si pemimpin itu sendiri sebagai biangnya, TETAPI si pemimpin itu tidak menyadari bahwa dialah sumber permasalahannya. Pernyataan ini dimunculkan dalam sebuah buku berjudul “Leader and Self Deception”.
Buku tersebut mencoba mengingatkan betapa banyaknya pemimpin dalam organisasi yang ‘menipu dirinya sendiri’ dengan merasa yakin bahwa dirinya adalah pemimpin yang terbaik dan selalu membuat keputusan-keputusan yang tepat. Padahal, justru karena kepemimpinannyalah, banyak permasalah muncul.
Apa Kaitannya Dengan Kecerdasan Emosi?
Salah satu kualitas yang sangat penting, sangat mendasar, dan krusial dalam praktek Kecerdasan Emosi, adalah SELF AWARENESS. Yaitu kepekaan dan kemampuan untuk menyadari, mengerti, dan memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri kita sendiri.
Pemimpin yang cerdas emosi, haruslah pemimpin yang punya kesadaran diri. Saya orang yang seperti apa, kenapa saya menjadi orang yang seperti ini, apa dasar saya memutuskan ini, apa kelemahan saya, apa kekuatan saya, di bagian mana saya sering luput (blindspot), apa yang sedang terjadi dalam diri saya dan kenapa ini bisa terjadi. Semua pertanyaan ini menjadi bagian dari proses berpikir seorang pemimpin cerdas emosi.
Banyak sekali pemimpin yang menjadi ‘bottle neck’ (leher botol yang menyempit), yaitu pemimpin yang menutupi jalan terjadinya pertumbuhan, baik lewat perilaku kepemimpinannya, maupun lewat keputusan-keputusan yang ia buat, tetapi ia tidak menyadarinya
Pemimpin yang cerdas emosi, memperkecil kemungkinan terjadinya ‘bottle neck leadership’ karena mereka menyadari batasan-batasan mereka, dan mencoba menemukan cara supaya keterbatasan itu tidak merusak kepemimpinan mereka.
Pemimpin yang cerdas emosi, adalah pemimpin yang cukup ‘secure’ untuk bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan super hero yang bisa melakukan segalanya, bahwa ia masih memiliki kelemahan, dan bahwa ia masih butuh ditolong serta perlu mempercayakan beberapa hal kepada orang lain.
Di sinilah Self Awareness menjadi krusial. Pemimpin yang memiliki self awareness tak akan menipu dirinya sendiri dan merasa over confident atas segala kepemimpinannya.
Pemimpin yang cerdas emosi mampu melihat dengan seimbang mana bagian yang ia excellent, dan mana bagian yang ia perlu cover up.
Bagaimana Menjadi Pemimpin Yang Punya Self Awareness?
Ada 3 langkah praktis untuk membangun self awareness di dalam kepemimpinan Anda:
- MILIKI WAKTU INTROSPEKSI DAN EKSPLORASI DIRI
Di sinilah budaya belajar seorang pemimpin akan terlihat. Para pemimpin yang terus belajar, akan berlatih untuk melakukan introspeksi dan eksplorasi pada dirinya.
Mulai dari membaca buku, ikut kelas, mendengar podcast, mencari mentor, hingga berdiskusi dengan berbagai orang yang memiliki wisdom, adalah cara untuk meningkatkan self awareness kita. Saat kita mengkaitkan pembelajaran dengan pengalaman diri-sendiri, di situ terjadi proses ‘membongkar diri’ yang bisa membuat kita menemukan hal-hal penting di dalam diri kita.
Tetapi cobalah amati pemimpin-pemimpin yang self awareness’nya buruk. Biasanya, mereka pemimpin yang enggan belajar, menyepelekan pembelajaran, ATAU kalaupun mereka gemar belajar, mereka selalu mengkaitkan pembelajaran dengan orang lain, bukan dengan dirinya sendiri. Mereka memakai hasil pembelajaran untuk menembak orang lain. - LAKUKAN EVALUASI SECARA PERIODIK
Berikan waktu secara rutin untuk Anda melihat lagi keputusan-keputusan dan sikap kepemimpinan Anda, dan melihat apa hasil / dampaknya.
Banyak pemimpin yang terus ‘tancap gas’ tanpa pernah mengevaluasi kepemimpinannya.
Mereka terus bergerak maju dan menarik semua orang mengikuti dirinya, tetapi tidak pernah punya waktu untuk bertanya apakah yang saya lakukan sudah benar, apakah ini adalah keputusan paling tepat untuk situasi tersebut, apakah saya sudah melibatkan orang-orang yang tepat, apakah dasar keputusan saya sudah solid, apakah pendekatan yang saya pakai sudah paling efektif.
Evaluasi rutin, menolong mempertajam kepekaan Anda kepada diri Anda sendiri. Anda akan mulai mengenali pola-pola memimpin Anda, dan bisa menemukan pola mana yang masih bisa diteruskan dan mana yang perlu diubah. - BUKA RUANG FEEDBACK
Ijinkan ada orang-orang yang bisa memberikan Anda saran dan masukan.
Para pemimpin yang menaruh dirinya dalam posisi ‘tuhan’, alias tidak bisa diberi masukan, tidak bisa dibantah, dan tidak bisa salah, akan membuat self awareness’nya makin tumpul
Dengan memiliki orang-orang yang bisa memberikan Anda masukan, Anda bisa terus diingatkan terhadap hal-hal yang mungkin luput dari pandangan Anda selama ini.
Saatnya Memimpin Dengan Cerdas Emosi
Kehidupan manusia butuh pemimpin. Dalam skala paling kecil, keluarga, butuh pemimpin. Tapi, hari-hari ini, bukan saja dunia butuh pemimpin, tetapi dunia desperately butuh pemimpin yang cerdas emosi. Karena dipimpin oleh pemimpin yang ‘chaos’ jiwanya, mungkin akan sama buruknya seperti tidak ada pemimpin.
Anda tidak harus memiliki posisi / jabatan tertentu untuk mulai mempraktekkan ini. Kepemimpinan selalu dimulai dari diri-sendiri. Marilah kita semua mulai belajar menjadi pemimpin yang cerdas emosi, yaitu dengan mempraktekkan dan menumbuhkan self awareness di dalam diri kita.
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
