John Gottman, seorang pakar pernikahan yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti kehidupan pernikahan lebih dari 3000 pasangan selama llebih dari 40 tahun, menyatakan bahwa salah satu indikator penting yang menentukan kekuatan dan keharmonisan sebuah pasangan adalah: Kecerdasan Emosi. Gottman menemukan, bahwa pasangan yang memiliki Kecerdasan Emosi yang buruk, juga akan menghasilkan kehidupan pernikahan yang penuh masalah. Sebaliknya, pasangan yang memiliki Kecerdasan Emosi yang baik, akan menghasilkan kehidupan pernikahan bahagia.
Bagaimana Kecerdasan Emosi bisa sangat berpengaruh terhadap sebuah pernikahan?
Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence yang sangat fenomenal, Kecerdasan Emosi secara umum, memiliki 4 wilayah kompetensi mendasar, yaitu: Self Awareness, Self Management, Social Awareness, dan Relationship Management
Jika kita kaitkan dengan kehidupan pernikahan, kita akan menemukan 4 kompetensi dasar ini memang menjadi pondasi yang sangat fundamental sekali untuk menentukan apakah sebuah pernikahan akan bisa kuat atau malah berantakan. Mari kita lihat secara sekilas:
1. SELF AWARENESS
Sejak membuka konseling pernikahan dari tahun 2020, saya menemukan, salah satu penyebab sulitnya sebuah pasangan untuk bisa rekonsiliasi dan mengalami recovery dari sebuah konflik yang berat, adalah karena lemahnya self awareness masing-masing individu.
Setiap ada masalah, kita cenderung menyalahkan pasangan kita lebih dulu, ketimbang mengambil momen untuk melakukan self-checking. Banyak orang yang tidak menyadari pola perilaku dan sikap-sikap berulang yang menyakiti atau tidak menyenangkan untuk pasangannya. Dia merasa dirinya baik-baik saja, dan pasangannyalah yang bermasalah.
Dengan kata lain, seringkali pihak yang jadi sumber masalah, tidak sadar bahwa dialah sumber masalahnya. Alias, self awarenessnya rendah.
2. SELF MANAGEMENT
Selain self awareness, Kecerdasan Emosi juga menekankan pada kemampuan untuk mengelola diri-sendiri. Banyak orang yang bergantung pada pasangannya untuk berperilaku sesuai yang dia harapkan, agar dia merasa nyaman.
Banyak orang, ketika mengalami situasi sulit, atau ada masalah yang dihadapi, tidak mampu meregulasi dan mengelola dirinya sendiri, dan menuntut pasangannya agar melakukan sesuatu untuk menolongnya. Tidaklah salah mengharap pertolongan dari pasangan, tetapi akan menjadi merusak jika kita menjadi bergantung dan tergantung dari pasangan. Pernikahan yang kuat, diisi oleh dua individu yang memiliki kemandirian emosional, namun saling mendukung satu sama lain.
3. SOCIAL AWARENESS
Di bagian ini juga banyak menjadi masalah. Ada orang-orang yang tidak memiliki awareness terhadap pasangannya. Saya menjumpai ada banyak orang yang tidak sadar bahwa pasangannya tidak menyukai perilaku dan Keputusan yang dia ambil. Ada banyak orang yang tidak sadar bahwa pasangannya sedang stress, menunjukkan perubahan sikap, dan sebagainya.
Ketidakpekaan terhadap apa yang terjadi kepada pasangan, ketidakpekaan terhadap pola dan kebiasaan pasangan, dan ketidakpekaan terhadap perubahan yang dialami pasangan, kerap menjadi sumber awal terjadinya keretakan.
4. RELATIONSHIP MANAGEMENT
Relationship management berbicara mengenai bagaimana kita bersikap dan meresponi pasangan kita. Bukan hanya dalam keadaan baik, tetapi di dalam rutinitas keseharian yang membosankan, dan juga ketika sedang konflik atau ada masalah.
Kemampuan relationship management, sangatlah luas. Itu sebabnya pasangan yang tidak mau belajar, malas upgrade diri, tidak peduli dengan edukasi tentang hubungan, akan cenderung terjebak pada situasi sulit yang berulang-ulang.
Kunci Pernikahan Bahagia
Jika kita lihat sekilas, kita jadi memahami, ternyata Kecerdasan Emosi, sangatlah krusial dan fundamental untuk membangun pernikahan yang kuat. Tidak heran, para pakar pernikahan bersepakat bahwa Kecerdasan Emosi menjadi salah satu skill wajib yang harus dipelajari dan dikuasai oleh siapapun, yang ingin pernikahannya menjadi lebih baik, sehat, dan kuat.
Sudahkah Anda belajar Kecerdasan Emosi?
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
