Semua orang ingin bahagia. Semua orang berusaha agar bisa merasa bahagia. Tapi rupanya, kebahagiaan datang dengan berbagai variasi. Apakah perasaan senang adalah kebahagiaan? Apakah perasaan puas adalah kebahagiaan? Apakah tertawa adalah kebahagiaan?
Umumnya, kita menilai kebahagiaan dengan sesuatu yang menyenangkan dan tawa. Apapun yang membuat kita senang dan tertawa, maka kita mengira itulah yang membahagiakan kita. Tetapi, ada hal-hal yang menyenangkan, tetapi bisa saja itu justru merusak jiwa kita. Contohnya, kesenangan yang lahir dari membuat orang lain menderita.
Bullying salah satunya. Banyak pem’bully yang senang dan tertawa ketika sedang mem’bully orang lain. Tapi apakah itu bisa disebut kebahagiaan? Kalaupun itu masuk kategori bahagia, saya akan menyebutnya sebagai “Toxic Happiness”, yaitu kebahagiaan yang sebenarnya tidak membawa hal baik apapun ke dalam jiwa kita, dan sebaliknya, malah merusak jiwa kita.
Ada juga, hal-hal yang enjoyable, membuat kita tertawa dan merasa senang, namun juga mendatangkan lebih banyak efek buruk ke dalam diri. Misalnya, narkoba. Banyak sekali orang yang stress, merasa hidupnya hampa, merasa terlalu tertekan, mencoba lari kepada narkoba dan alkohol karena mengira di sana ia akan menemukan tawa dan rasa senang. Tapi apakah itu juga bisa disebut sebagai kebahagiaan?
Mungkin, Anda tidak sampai jadi pem’bully ataupun mengkonsumsi narkoba. Namun, “Toxic Happiness” bisa hadir dalam berbagai bentuk. Misalnya, terlalu terobsesi untuk bekerja demi mendapatkan rasa puas, namun sebenarnya itu membuat tubuh kita tidak terawat, mental kita burnout, dan hubungan-hubungan penting kita terbengkalai. Namun banyak orang tetap melakukannya juga, karena di situlah mereka menemukan satu-satunya tempat yang memuaskan. Di sanalah mereka mengira satu-satunya kebahagiaan mereka bermuara.
MEANINGFUL HAPPINESS
Jika kita belajar tentang kebahagiaan, rupanya kebahagiaan memiliki berbagai macam kondisi dan tingkatan. Ada yang hanya berupa kesenangan saja, yaitu apapun hal yang bisa membuat kita senang dan enjoy. Misalnya, makan enak, melakukan hal yang kita sukai, termasuk juga ada berbagai “Toxic Happiness” semacam menyakiti orang, memakai narkoba, menghina orang lain, merusak barang, dan sebagainya.
Anak saya saat berusia 1,5 tahun, ia mulai mengeksplorasi berbagai benda di sekitarnya, dan salah satu perilaku yang ia sering ulang-ulang adalah membanting, melempar, atau menjatuhkan sesuatu. Ketika ia melihat sebuah benda yang ia jatuhkan, ia bisa tertawa-tawa sendiri dengan girang. Entah karena suaranya, atau karena keadaan jatuh yang menurut dia seru dan berbeda. Tentu saja dia senang, tetapi bukankah ini sesuatu yang tidak baik?
Kebanyakan orang, hanya berfokus untuk mencari kebahagiaan yang hanya bersifat kesenangan semata. Dan mengira, ini satu-satunya jenis kebahagiaan.
Ada kebahagiaan lain yang disebut dengan kepuasan yang menyenangkan. Kebahagiaan ini kita alami setelah kita melakukan sesuatu yang membutuhkan usaha kita dan membuat kita mengeluarkan sesuatu, namun kemudian hasilnya seperti yang kita harapkan, bahkan lebih dari yang kita harapkan.
Inilah kebahagiaan yang biasanya terjadi ketika kita memenangkan sesuatu, berhasil menyelesaikan sebuah tantangan tertentu, atau ketika kita berhasil mengatasi sebuah tekanan tertentu. Di sinilah banyak orang terjebak kepada pekerjaan yang tanpa henti, ambisi yang tanpa henti, atau hal-hal yang memacu adrenalin.
Tentu saja tidak selalu salah, namun jika tidak berhati-hati, kita bisa terjebak kepada kehidupan yang harus terus ditantang dan berbeban agar bisa menemukan kepuasan kebahagiaan.
Namun, ada juga kebahagiaan yang disebut dengan “Meaningful Happiness”, yaitu sebuah rasa bahagia mendalam yang tidak selalu harus dengan tawa, melainkan karena perasaan bermakna dan berharga. Misalnya sebuah keadaan yang hangat di keluarga, atau momen pertemanan yang berarti, atau ketika kita bisa menolong orang lain. Kita tidak selalu tertawa terbahak-bahak, mungkin kita hanya tersenyum, tetapi di kedalaman hati kita terasa sangat bahagia dan penuh.
MENEMUKAN MEANINGFUL HAPPINESS
Jika kita amati, ada 3 keadaan yang selalu menyertai keadaan-keadaan yang bisa memberikan meaningful happiness kepada kita:
- Berkaitan dengan nilai hidup yang mulia.
- Berkaitan dengan hubungan dengan orang lain.
- Berkaitan dengan kontribusi yang kita berikan.
Artinya, tanpa ketiga hal ini, kita akan sulit mendapatkan meaningful happiness. Dan akibatnya, kita akan kembali mencari-cari “Toxic Happiness” yang hanya sementara, tidak terlalu berarti, dan dalam jangka waktu tertentu, bahkan bisa merusak kehidupan kita.
Cobalah mulai membangun meaningful happiness dalam hidup Anda!
Cari tahu sekarang, seberapa bahagianya kamu!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
