Pernahkah kamu berada di dalam tim yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki kadar insecure yang besar? Saya banyak mendapatkan kisah-kisah betapa destruktifnya seorang pemimpin, ketika dia didorong dan dikuasai oleh rasa tidak aman yang kuat dalam menjalankan kepemimpinannya dan membuat kebijakan-kebijakan.
Dan salah satu hal yang kemudian umum terjadi, ketika seorang pemimpin dikuasai oleh rasa insecure, adalah mereka mulai mengaktifkan taktik dan cara-cara yang abusif. Tentu saja, seringkali cara abusif ini lebih banyak terjadi secara emosional dan psikologis. Bukan abusif fisik.
Seringkali, di dalam menjalankan taktik abusifnya yang merusak, para pemimpin insecure ini, memanfaatkan kekuasaan dan sumber daya yang dia kendalikan, demi memenuhi rasa aman untuknya tanpa peduli bahwa itu bukan saja bisa menyakiti dan merusak individu orang-orang yang ia pimpin, namun juga bahkan bisa merusak sistem, budaya, dan nilai-nilai mulia sebuah organisasi.
Ego yang harus diikuti, rasa terintimidasi ketika ada orang lain yang nampak lebih perform dan berbakat, perilaku represif atau intimidatif untuk menunjukkan kekuasaan dan otoritas, hingga perilaku manipulatif untuk mengendalikan orang lain agar tetap dalam batas yang ia inginkan. Begitu banyak sikap-sikap ini sudah melukai banyak orang yang ada di dalam kepemimpinan model seperti ini.
Mengapa Seorang Pemimpin Bisa Menjadi Insecure?
Dalam beberapa teori perkembangan anak juga ditemukan korelasi positif antara anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua nya, jarang mendapat afirmasi sejak dini cenderung memiliki gambar diri yang buruk, yang dipicu oleh rasa tidak aman (insecurity).
Banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya penyebab rasa tidak aman seseorang sudah dimulai sejak usia dini. Anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang tuanya cenderung memiliki gambar diri yang buruk karena jarang mendapat afirmasi. Hal ini memicu rasa tidak aman.
Kita bisa melihat betapa besarnya peran orang tua dan hubungan anak dengan mereka, dalam membentuk sebuah ide dasar bagaimana kelak ia ketika menjadi pemimpin. Jiwa kepemimpinan, mula-mula dibentuk di dalam rumah, melalui interaksi anak dengan orang tua.
Bisakah Membangun Rasa Aman?
Bagaimana jika kita sudah terlanjur dewasa dengan membawa rasa insecure yang besar? Bagaimana jika kita memang tidak memiliki hubungan yang sehat dengan orang tua kita, dan menyebabkan kita menjadi pemimpin yang insecure? Masih adakah yang bisa kita lakukan?
Perjalanan membangun rasa aman, dari reruntuhan hubungan yang tidak sehat di masa lalu, memang akan menjadi sebuah pergumulan dan perjalanan yang tidak mudah. Namun, melalui pengalaman dan pembelajaran pribadi, saya menemukan ada beberapa hal yang bisa mulai kita lakukan sebagai titik awal pertumbuhan:
- Melatih kesadaran, bahwa rasa berharga kita tidak boleh lagi ditentukan dari prestasi kepemimpinan kita, melainkan dari apa perkataan Tuhan tentang kita.
- Jika memungkinkan, usahakanlah sebuah re-koneksi dengan orang tua kita, dengan harapan ada rekonsiliasi dan hubungan yang pulih dengan orang tua.
- Membangun narasi-narasi yang biblikal tentang kualitas diri kita. Jangan biarkan standar penilaian dunia ataupun standar pribadi buatanmu sendiri, dipakai menjadi dasar narasi-narasi penilaian tentang kualitas dirimu.
- Memiliki sirkel orang-orang yang sehat citra dirinya, memegang nilai hidup yang kuat dalam firman Tuhan, dan meminta mereka mendukungmu, terutama di area insecurities.
Maksimal Bertahap
Tentu saja, bagi orang-orang yang memiliki pergumulan besar dengan rasa insecure, butuh proses yang bertahap. Namun, ketika kita memulai perjalanan kita untuk menjadi pemimpin yang aman, maka kita sebenarnya sedang mendorong diri kita untuk menjadi pemimpin yang lebih efektif dan lebih berdampak secara emosional kepada orang lain.
Pada gilirannya, pemimpin yang punya rasa aman, akan berpeluang menemukan orang-orang terbaik untuk menjadi bagian timnya, dan bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar dari sebelumnya. Rasa aman, bisa membawa seorang pemimpin kepada kemaksimalan.
NEXT EVENT:
Buat kamu yang ada di Bandung, untuk pertama kalinya kelas VE akan diadakan di Bandung! Yuk segera daftar, tiket terbatas.
Ericko Tandayu
Ericko mendalami dan memiliki pengalaman dalam kepemimpinan (formal dan informal) sejak tahun 1997. Saat ini bekerja di LeaderSource Indonesia dan aktif membimbing anak-anak muda dan orang dewasa untuk mencapai potensi maksimal mereka. Ericko juga mengelola podcast Luar Dalam sebagai warisan iman untuk kedua anak perempuannya.
