Bukan. Definisi kata “orang stress” di sini, bukanlah merujuk pada orang yang sudah kehilangan kewarasan mentalnya, atau yang seringkali disebut sebagai orang gila. Kata “orang stress” di sini, merujuk kepada orang yang memang sedang mengalami keadaan mental yang banyak tekanan, lelah secara pikiran, dan jiwanya sedang berbeban berat.
Berdasarkan pengalaman saya selama ini dalam memberikan sesi-sesi tentang “stress awareness” kepada orang-orang yang memiliki posisi kepemimpinan tertentu dalam sebuah organisasi, saya menemukan bahwa para pemimpin ini adalah orang-orang yang rupanya memiliki beban stress yang besar namun seringkali tidak terlihat di muka publik.
Wajar saja, memang menjadi pemimpin artinya menanggung beban lebih banyak (seharusnya). Orang cenderung bergantung kepada pemimpin, dan juga menuntut atau menyalahkan pemimpin ketika ada keadaan yang tidak sesuai keinginan. Pemimpin juga dipersepsikan sebagai sosok yang harus tangguh, bisa diandalkan setiap saat, menjadi yang terkuat, tercerdas, terbijaksana, dan teroptimis di antara seluruh anggota tim.
Sehingga, tidak mudah untuk seorang pemimpin bisa berbagi beban, apalagi menunjukkan kelemahan dan kelelahannya. Banyak pemimpin, terpaksa menjaga citra keunggulannya, dengan menyembunyikan beban-beban stress yang ia alami. Dan karena itulah, ia menjadi semakin stress.
MASALAH DARI DALAM
Masalahnya adalah, ketika beban stress sudah melebihi kadar seharusnya, maka seorang pemimpin akan kehilangan kemampuan memimpinnya. Semakin besar kadar stress berlebih yang ditanggung pemimpin, maka semakin menurun pula kualitas keputusan dan kejernihannya dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang ada.
Pemimpin yang terlalu stress, adalah pemimpin yang tidak efektif, dan menjadi cenderung reaktif di dalam menyikapi situasi. Pemimpin yang terlalu stress, adalah pemimpin yang bisa kehilangan kebijaksanaannya dalam bersikap. Pemimpin yang terlalu stress, bahkan bisa menjadi pemimpin yang kehilangan arah dan tersesat.
Itu sebabnya, semakin besar tanggung jawab kepemimpinan yang ditanggung seseorang, ia harus semakin fasih di dalam mengelola beban-beban stressnya. Agar kualitas terbaiknya bisa tetap aktif dan maksimal di dalam memimpin.
DIPIMPIN DALAM STRESS
Begitu pula, efek kepada tim yang dipimpin juga tidaklah kecil. Ketika seorang pemimpin sudah mengalami stress yang berlebihan dan tak terkelola, maka dampak kepada tim juga besar. Orang-orang yang dipimpin bisa menjadi korban pelampiasan kelelahan mental si pemimpin. Orang-orang yang dipimpin, bisa saja jadi harus menanggung beban dan fungsi si pemimpin, padahal mereka mungkin belum pada kapasitas untuk bisa melakukan itu. Orang-orang yang dipimpin, bisa kehilangan orientasi dan bingung akan arah tim.
Dan pada gilirannya, orang-orang yang dipimpin oleh pemimpin stress, juga akan menjadi tim yang stress.
APA YANG BISA DILAKUKAN?
Jika Anda adalah seorang pemimpin:
- Temukan apa sumber stress terbesar Anda. Seringkali yang membuat stress Anda menjadi berat, bukan faktor eksternal (situasi, masalah, orang lain), tapi bisa jadi malah diri Anda sendiri (pikiran yang tak perlu, pola kerja yang tak efektif, dsb)
- Miliki orang-orang yang bisa menjadi tempat konsultasi dan melepas beban. Memiliki sirkel yang positif dan kompeten, bisa menolong Anda melihat persepektif lain yang melegakan, sekaligus memberikan energi baru yang menyegarkan untuk Anda.
- Atur kembali pola hidup Anda. Seringkali pola hidup yang buruk, justru memperparah stress. Lihat lagi pola makan, pola tidur, pola olahraga, dan pola hubungan sosial Anda.
- Miliki perpsektif solutif. Alih-alih terus “ngulik” situasi masalahnya, cobalah melihat dari sisi “apa yang masih bisa dilakukan” dan wujudkan berupa tindakan. Arahkan energi Anda untuk bertindak, sehingga Anda bisa melihat adanya harapan melalui usaha-usaha Anda.
Jika Anda adalah orang yang dipimpin:
- Jaga diri Anda. Pastikan Anda tidak terpengaruh oleh energi dan perilaku dari pemimpin Anda. Jagalah mental Anda tetap fokus pada solusi apa yang bisa dikerjakan saat ini.
- Ajak semua tim untuk solutif. Sebarkan energi optimis kepada tim yang lain dan ajak mereka untuk tidak terjebak menjadi reaktif terhadap stress si pemimpin, sebaliknya berfokus kepada “what to do” setiap hari.
- Tolonglah pemimpin Anda. Lihatlah hal-hal sederhana apa yang bisa Anda dukung kepada pemimpin Anda. Dengan menunjukkan dukungan, Anda bisa menyeimbangkan energi stress yang sedang dialami pemimpin Anda.
Menjadi pemimpin yang sedang stress berlebih, bisa saja tidak terhindarkan dalam beberapa fase dan situasi tertentu. Tapi bukan berarti kita harus terus tinggal dalam keadaan itu dan bahkan menjadi rusak karenanya.
Mari kita belajar menjadi pemimpin (dan orang yang dipimpin) yang cerdas emosi!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
