Uang sering kali menjadi sumber rasa bersalah bagi orang Kristen. Banyak dari kita menganggap hidup dengan kekayaan yang melimpah sebagai hal yang tidak seharusnya dijalani orang percaya. Akan tetapi, Alkitab sebenarnya memberikan perspektif tentang kekayaan, yang menantang kita untuk bisa melihat uang dan kekayaan sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dikelola demi sebuah tujuan yang Tuhan tetapkan.
Setelah membaca paragraf diatas, Saya yakin beberapa diantara Anda langsung bertanya dalam hati: “jadi, boleh dong saya punya banyak uang?”. Ya mungkin tidak sekaya Bill Gates atau Elon Musk, tetapi cukup punya banyak uang untuk memberi Anda tingkat kenyamanan tertentu dan lebih banyak pilihan dalam hidup.
Jika Anda punya banyak uang, Anda dapat menghemat lebih banyak waktu untuk berobat di rumah sakit dengan menggunakan pembayaran tunai atau asuransi pribadi daripada mengantri karena menggunakan BPJS. Jika Anda punya banyak uang, Anda dapat mengambil cuti panjang kapan saja tanpa perlu khawatir untuk membayar semua pengeluaran dan kebutuhan sehari-hari. Jika Anda punya banyak uang, Anda dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih nyaman. Anda dapat mengajak keluarga berlibur, membeli apa pun yang Anda inginkan, melakukan apa pun yang Anda inginkan.
Dan tentu saja jika Anda punya banyak uang, Anda dapat membantu lebih banyak orang tanpa merasa terbebani. Anda akan lebih mampu, untuk menjadi kaya dalam perbuatan baik, murah hati, dan berbagi dengan orang lain seperti yang Paulus ajarkan.
“Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” (1 Timotius 6:18)
LALU APA YANG MEMBUAT BERDOSA?
Di pasal yang sama, di ayat 9, Paulus juga memperingatkan kita (Alkitab versi BIMK): “Tetapi orang yang mau menjadi kaya, tergoda dan terjerat oleh bermacam-macam keinginan yang bodoh dan yang merusak. Keinginan-keinginan itu membuat orang menjadi hancur dan celaka.”. Sebenarnya, uang itu sendiri bukanlah masalah. Alkitab mengatakan bahwa cinta uanglah yang merupakan akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Cinta uanglah yang menyebabkan beberapa orang benar-benar kehilangan iman.
Cinta uang dan kehidupan beriman tidaklah sejalan. Kita menjadi lebih rentan terhadap godaan saat kita ingin menjadi kaya. Uang dapat dengan mudah menjadi tuhan kita, di mana kita menjadi mengabdikan diri untuk mengejarnya dengan mengorbankan hubungan kita dengan Tuhan. Namun, tidak ada yang salah dengan menjadi kaya. Orang kaya tidak kurang suci dari orang lain. Seseorang dapat mempunyai banyak uang dan tetap mengasihi Tuhan lebih dari ia mengasihi atau mempercayai uang.
STOP CINTA UANG!
“Bagaimana cara supaya saya tidak cinta uang?”. Tidak peduli seberapa jumlah uang yang Anda miliki, cinta uang akan terus membayangi Anda jika Anda tidak tahu jawaban atas pertanyaan ini. Namun, mari kita mulai dengan ayat ini, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:5).
Sebelum menemukan cara terbaik dan melakukan tindakan praktis dalam mengelola uang tanpa Anda harus cinta uang, mulailah dengan sikap hati ini. Ini bukan tentang berapa banyak uang yang Anda miliki atau yang bisa Anda hasilkan. Ini tentang menyelaraskan hidup Anda, semua yang Anda miliki dan yang Anda lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Kita mengasihi apa atau siapa yang kita berikan waktu dan uang kita. Banyak orang menyebut diri orang Kristen tetapi tidak menghabiskan waktu setiap pagi dengan Tuhan karena bangun kesiangan setelah semalaman begadang menonton TV. Banyak orang menyebut diri orang Kristen tetapi memberikan sedikit (atau tidak sama sekali) kepada pekerjaan Tuhan di gereja, organisasi misi, atau organisasi Kristen lainnya. Sebaliknya, mereka menghabiskan sebagian besar uang mereka di toko online atau mal atau hobi mereka. Apa yang sebenarnya mereka kasihi?
UANG UNTUK MEMULIAKAN TUHAN
Orang yang mengasihi Tuhan menyadari bahwa setiap rupiah yang mereka hasilkan diberikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya mereka memberikan sebagian kembali kepada Tuhan. Mereka memberi persepuluhan. Namun Anda harus memeriksa hati Anda, apakah Anda mempertimbangkan untuk memberikan lebih dari sekadar persepuluhan kepada gereja? Apakah terlalu berat bagi Anda untuk memberi kepada keluarga yang membutuhkan atau memberikan sedikit bantuan kepada tetangga kita?
Ketika seorang misionaris meminta pertolongan, apakah Anda berpikir bahwa itu adalah tanggung jawab Anda dan bukan orang lain? Apakah Anda benar-benar perlu menginvestasikan sejumah besar uang untuk memulai bisnis baru atau apakah uang uang itu digunakan dengan lebih baik untuk memajukan kerajaan Allah?
Ketika kita Anda menggunakan uang untuk memberkati orang lain, itu adalah wujud kasih Anda kepada Tuhan. Ini merupakan merupakan wujud tanggung jawab pengelolaan yang baik atas karunia yang Allah berikan kepada Anda. Tidak perlu merasa bersalah karena memiliki banyak atau sedikit uang. Jadilah pengurus yang baik atas karunia yang telah Dia berikan kepada Anda.
Cari tahu sekarang, seberapa bahagianya kamu!
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
