Kita semua berjuang dengan pilihan antara ambisi mengejar lebih banyak hal dalam hidup ini atau merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Berbeda dengan ambisi yang dapat mendorong kita untuk mencapai tujuan, rasa cukup dapat mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia, memahami hubungan rumit antara rasa cukup dan ambisi adalah hal yang sangat penting.
Sejak usia muda, kita dikondisikan sedemikian rupa oleh budaya masyarakat yang tidak mengenal batas dalam berjuang demi meraih keunggulan tertinggi di setiap area hidup sehingga 1 dari 3 remaja Indonesia (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental. Namun, masih banyak yang menyalahartikan rasa cukup sebagai tindakan pasrah, jalan pintas orang malas, dan dipandang sebagai bentuk tidak mau berjuang.
Tidak sedikit orang juga yang berpikir rasa cukup seharusnya tidak ada. “Mengapa harus merasa cukup? Kita hanya hidup satu kali, mengapa harus puas dengan masa kini ketika dunia menawarkan lebih banyak hal? Jika saya merasa cukup, saya tidak akan melakukan hal yang berguna.”
BAIK BURUKNYA AMBISI
Ambisi adalah motivator yang paling hebat. Ambisi memiliki kekuatan yang mendorong kita untuk mencapai tujuan, mengambil risiko, dan melampaui zona nyaman kita. Individu yang ambisius sering kali mencapai hal-hal hebat, baik dalam karir, kehidupan pribadi, atau kehidupan sosial mereka. Mereka didorong oleh keinginan untuk mengembangkan diri, berinovasi, dan menciptakan dampak jangka panjang yang besar.
Kita mungkin memiliki keterampilan terbaik yang dibutuhkan untuk pekerjaan kita, tetapi kita tidak akan dapat maju dalam karir kecuali kita memiliki ambisi untuk unggul di bidang tertentu. Seniman Spanyol yang terkenal, Salvador Dali, dengan tepat menyimpulkan esensi pentingnya ambisi dalam pepatahnya:
“Kecerdasan tanpa ambisi bagaikan burung tanpa sayap.”
Bersikap ambisius juga penting karena saat kita memiliki ambisi, kita akan bisa tetap fokus pada tujuan dan mengalahkan tantangan yang menghalangi kita untuk meraihnya.
Namun, ambisi yang tidak terkendali juga dapat memiliki sisi buruknya. Ketika ambisi menjadi obsesi, hal itu dapat menyebabkan kelelahan, stres, dan ketidakpuasan. Mengejar lebih banyak hal secara terus-menerus baik itu kesuksesan, kekayaan atau pengakuan dapat menciptakan siklus keinginan yang tidak pernah berakhir, di mana tidak ada pencapaian yang terasa cukup. Dorongan yang tak henti-hentinya ini dapat membebani hubungan, mengorbankan kesejahteraan, dan membuat individu merasa tidak puas meskipun mereka mencapai sesuatu.
RASA CUKUP BUKAN BERPUAS DIRI
Rasa cukup bukan tentang merasa puas dengan apa yang kurang atau menjadi tidak produktif. Sebaliknya, rasa cukup adalah pilihan sadar untuk menentukan batas “cukup”. Orang yang memiliki rasa cukup mengakui bahwa kepuasan sejati tidak terletak pada akumulasi harta benda atau pencapaian yang lebih besar, tetapi ketika menghargai dan bersyukur atas apa yang kita miliki, daripada terus-menerus mendambakan lebih banyak.
Seseorang yang tidak memiliki rasa cukup tidak akan mampu berpaling dari godaan.
Ketika kita bersyukur, kita mengalihkan fokus dari apa yang tidak kita miliki kepada kelimpahan yang ada di sekitar kita. Perspektif ini memungkinkan kita menemukan kegembiraan dalam perjalanan, menghargai momen-momen kecil yang sering luput dari perhatian, dan menjalani hidup dengan rasa damai. Orang yang memiliki rasa cukup sering kali lebih tenang, tidak terlalu stres, dan lebih bahagia. Mereka mampu menikmati kesenangan hidup yang sederhana dan mempertahankan rasa syukur dan kedamaian batin.
Rasa cukup tidak meniadakan ambisi atau produktivitas. Sebaliknya, rasa cukup membebaskan diri kita dari belenggu perbandingan dan pengejaran yang tiada akhir. Dalam masyarakat yang sering menyamakan kesibukan dengan produktivitas, rasa cukup menjadi pagar yang menjaga kehidupan kita tetap seimbang dan bermakna.
MENGEJAR AMBISI DENGAN RASA CUKUP
Ambisi dan rasa cukup bisa menjadi 2 hal yang sulit untuk disatukan. Daripada memandang keduanya sebagai hal yang saling bertentangan, kita dapat melihatnya sebagai kekuatan yang saling melengkapi, yang jika seimbang, dapat menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna dan memuaskan. Ambisi mendorong kita untuk sukses dan tumbuh, sementara rasa cukup membuat kita menghargai dan menikmati masa kini.
Untuk bisa berambisi dengan rasa cukup kita membutuhkan pendefinisian ulang tentang arti kesuksesan. Kesuksesan sering kali didefinisikan oleh pencapaian eksternal seperti posisi karir, keuntungan finansial, dan status sosial. Namun, ketika kesuksesan hanya dikaitkan dengan penanda eksternal, hal itu dapat mengarah pada pengejaran yang terus-menerus, di mana kepuasan selalu berada di luar jangkauan.
Orang yang berambisi dengan rasa cukup mengakui bahwa kesuksesan sejati tidak hanya mencakup apa yang dicapai tetapi juga bagaimana perasaan mereka tentang hidup mereka. Perubahan pola pikir ini memungkinkan kita untuk mengejar ambisi dengan rasa cukup, mengetahui bahwa nilai kita tidak hanya bergantung pada pencapaian kita.
Mari luangkan waktu sejenak untuk merenungkan hidup Anda: Bagaimana Anda dapat mengalihkan fokus Anda dari pengejaran ambisi yang tiada henti kepada menemukan kepuasan atas apa yang sudah Anda miliki? Tantangan apa yang Anda hadapi saat mengubah fokus ini?
Anda dapat membangun rasa cukup dan ambisi dalam hidup dengan menentukan nilai-nilai Anda, menetapkan tujuan yang ingin dicapai, dan bersyukur.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
