Menjadi pemimpin bukan hal yang mudah. Seorang pemimpin seringkali dianggap “yang paling” dalam banyak hal. Paling pintar, paling bijaksana, paling kuat. Hal ini seperti menjadi sebuah tuntutan yang membebani para pemimpin. Beberapa orang malah akhirnya menghindari berada di posisi kepemimpinan.
Di dalam Alkitab kita bisa menemukan banyak kisah dari kehidupan para pemimpin, bagaimana mereka menghadapi tekanan demi tekanan dan melewatinya. Musa yang dituduh sebagai pengkhianat bangsa, Yusuf yang dianggap anak bawang, Daud yang ingin dibunuh oleh mertua dan bangsanya sendiri, Paulus yang tidak dipercaya, Yesus yang dikhianati oleh muridNya sendiri, bahkan harus menghadapi kematian paling mengerikan sepajang sejarah peradaban manusia dan tokoh- tokoh lainnya yang juga mengalami betapa kerasnya tekanan menjadi seorang pemimpin.
Jika kita mengamati kehidupan mereka, kita bisa menemukan satu kesamaan yang mereka miliki, yang wajib dimiliki para pemimpin
MENGAKUI DAN MENERIMA
Setiap perasaan yang disangkal atau dipendam akan menyebabkan banyak dampak negatif. Anxiety, insecurity, stress, bahkan depresi. Tidak hanya dampak secara psikologis, tubuh kita juga akan terdampak. Mayoritas penyakit muncul karena faktor psikologis. Maag, gerd, diabetes, bahkan cancer.
Memang tidak mudah untuk seorang pemimpin bisa menerima dan mengakui apa yang sedang dirasakan. “Pemimpin itu harus kuat, nggak boleh lembek”. “Pemimpin nggak boleh menujukkan kelemahannya, nanti nggak dihargai”. Label-label semacam ini berhasil membuat banyak pemimpin akhirnya menyangkali perasaan dan kondisinya. Berusaha menutup-nutupinya, karena malu dan gengsi. Yang akhirnya berujung pada kehancuran diri sendiri. Namun pemimpin juga manusia dan tidak ada satupun manusia yang bebas dari kelemahan.
Daud adalah salah satu tokoh yang banyak menunjukkan kelemahannya. Dia mengakui dan menerima apa yang dia rasakan. Kitab Mazmur menjadi bukti bagaimana Daud sangat terbuka dengan keadaannya. Dia mencurahkan semua persaaan dan isi hatinya pada Tuhan
MELEPAS HAL-HAL DILUAR KENDALI
Berusaha mengontrol banyak hal adalah salah satu sifat alami manusia untuk merasa aman. Namun, meskipun kita punya kekuasaan dan resources tak terbatas, pada kenyataannya tidak semua hal bisa kita kontrol.
Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikir tentang kita, kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang memperlakukan kita, kita tidak bisa mengontrol cara pasangan kita mengasihi kita. Jika kita hanya berfokus pada hal yang tidak bisa kita kontrol, kita akan stress.
Daud memberi contoh bagaimana cara bebas dari ikatan stress. Dia mencari dan berserah kepada Tuhan.
Mencari Tuhan artinya kita sadar kalau kita tidak tidak bisa apa-apa. Kita mengakui Tuhan berkuasa dan berdaulat atas semua hal. Berserah adalah wujud kita percaya kalau Tuhan, dengan caraNya, akan menolong kita dan memberi kekuatan untuk menanggung hal-hal yang berat.
FOKUS PADA APA YANG BISA DILAKUKAN
Ketika mengalami tekanan/masalah, biasanya kita cenderung hanya berfokus pada masalah itu saja sehingga kita akan stress dan tidak menemukan solusi apapun. Seorang pemimpin haruslah mampu mengelola pikirannya dan mengalihkan fokus pada hal-hal yang masih bisa dilakukan.
“Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki situasi ini?”
“Apakah ada pilihan lain yang bisa saya lakukan?”
Sekecil apapun hal yang kita lakukan bisa sangat berarti. Sekalipun hal tersebut tampaknya tidak membawa perubahan, cobalah melakukan satu hal kecil yang terpikirkan saat kita diperhadapkan dengan masalah. Dengan fokus melakukan apa yang bisa dilakukan, kita akan mampu mengatasi perasaan-perasaan yang membuat kita stress.
Dari kisah Daud dan Goliat, kita bisa melihat bagaimana Daud ketika menghadapi Goliat tidak berfokus pada masalahnya melainkan dia fokus pada apa yang dia bisa lakukan.
Daud tidak menjadi tawar hati, stress atau bahkan depresi. Dia memikirkan hal yang sangat sederhana. Sebagaimana dia biasa mengalahkan singa atau beruang yang datang menerkam domba-dombanya, begitulah yang akan dilakukan Daud kepada Goliat. Dan kita semua tahu bagaimana akhir ceritanya. Daud mengalahkan Goliat yang tampaknya mustahil.
PERJALANAN SEUMUR HIDUP
Menjadi pemimpin yang bebas dari ikatan stress bukanlah hal yang tidak mungkin. Ingatlah bahwa kehidupan bebas ikatan stress adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Karena itu penting untuk terus mengakui dan menerima perasaan yang muncul serta belajar melepaskan hal yang di luar kendali kita sehingga kita bisa menjalani hidup yang bebas dari ikatan stress dan lebih bahagia.
Segera daftarkan diri Anda untuk event terdekat!
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
