Sadar atau tidak, pertanyaan ini terus menjadi perdebatan pro dan kontra yang panjang. Sementara ada begitu banyak orang yang berkata bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan (bahkan ada orang-orang yang dianggap memiliki banyak uang, mengatakan hal yang sama), namun juga lebih banyak lagi orang yang meyakini bahwa uang bisa membeli kebahagiaan.
Mereka yang percaya bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, karena telah melihat atau bahkan mengalami sendiri, bahwa ketika sudah dalam keadaan berkelebihan secara finansial, namun hidup mereka tetap tidak bahagia. Ada pasangan-pasangan kaya yang pernikahannya penuh penderitaan dan keluarga mereka hancur. Ada orang tua kaya yang bergulat dengan anaknya yang berantakan hidupnya. Ada keluarga-keluarga kaya yang setiap hari stress karena pekerjaan dan tidak memiliki waktu menyenangkan bersama.
Kita juga bisa melihat, ada orang-orang yang dari waktu ke waktu mengalami peningkatan kesejahteraan finansial, namun anehnya, mereka terus merasa kurang, masih stress, dan tampak tidak puas dengan kehidupannya.
Namun, di sisi lain, kita juga melihat betapa sulit dan menderitanya kehidupan orang-orang yang berkekurangan secara finansial. Bukanlah sulit untuk menemukan kisah orang tua yang patah hati karena tidak bisa menyekolahkan anaknya, atau orang-orang yang meratap kehilangan orang yang mereka sayangi lantaran tak mampu mengobatkan ketika mereka sakit. Tidak bisa dipungkiri, kekurangan uang, memang mendatangkan penderitaan.
JADI BAGAIMANA?
Ada beberapa studi yang menarik mengenai kaitan uang dan kebahagiaan. Seorang psikolog yang cukup ternama, Daniel Kahneman, pernah mempublikasikan studinya di tahun 2010 mengenai kaitan uang dengan kebahagiaan.
Kahneman, membedakan antara kesejahteraan hidup dengan kesejahteraan emosional. Kesejahteraan hidup berbicara mengenai kualitas kehidupan secara fisik dan fasilitas. Sedangkan kesejahteraan emosional berbicara mengenai rasa tenang, bahagia, dan rasa aman.
Kahneman menemukan, sementara peningkatan pendapatan bisa terus meningkatkan kesejahteraan hidup. Namun, untuk kesejahteraan emosional, rupanya ada batas angka tertentu dimana pertambahan uang sudah tidak berpengaruh banyak terhadap. Menurut Kahneman, di Amerika batasan itu ada di angka 100 juta rupiah per bulan.
Artinya, orang yang memiliki pendapatan 100 juta per bulan, dengan 200 juta per bulan, sekalipun kesejahteraan hidupnya berbeda jauh, namun kesejahteraan emosional di antara keduanya, nyaris sama. Jika dikonversikan dengan kehidupan dan kondisi di Indonesia (menggunakan indeks biaya hidup dan paritas daya beli), maka angka batasan tersebut berada di sekitar angka 50 juta rupiah.
UANG (TAMPAKNYA) MEMANG BISA MEMBELI KEBAHAGIAAN
Jika kita berkaca pada studi Kahneman, nampaknya uang memang bisa membeli kebahagiaan, walaupun ada batasnya. Artinya, tidak selamanya peningkatan finansial selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan emosional.
Dan yang lebih menarik sekaligus sangat penting, sebuah studi oleh Elizabeth Dunn dan Michael Norton di tahun 2013, menyingkapkan sebuah hal penting berkaitan soal uang dan kebahagiaan. Kedua psikolog tersebut menemukan bahwa rupanya, bagaimana cara kita memakai uang, jauh lebih penting dan berpengaruh, apakah uang bisa membuat kita lebih bahagia atau tidak.
Artinya, ini bukan soal jumlah besaran uangnya, namun soal bagaimana kita menggunakannya.
Sementara memang ada standar jumlah tertentu yang harus dicukupi untuk memiliki kehidupan yang stabil dan aman secara fisik, namun selebihnya, semua bukan lagi soal besaran angkanya, melainkan soal kecerdasan penggunaannya.
Dunn dan Norton memberikan 3 tips sederhana mengenai bagaimana memakai uang dengan lebih cerdas, agar bisa meningkatkan kesejahteraan emosional:
- Membeli pengalaman, bukan barang. Kalaupun kamu membeli barang, belilah barang yang bisa menciptakan pengalaman menyenangkan. Jangan membeli barang untuk sekedar pamer, fomo, atau sekedar kepemilikan belaka.
- Memberi lebih banyak. Rupanya menggunakan uang untuk membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan lebih banyak bagi diri kita.
- Menunda untuk membangkitkan kebahagiaan lebih besar. Biasakan untuk tidak selalu menuruti keinginanmu secara langsung. Penundaan memberikan rasa puas lebih besar setelahnya.
PERLU TAHU BATAS DAN CARA
Jadi, ya, uang memang bisa membeli kebahagiaan. Namun, kita perlu mengingat bahwa uang tetap terbatas. Sekalipun hampir segalanya membutuhkan uang, namun tetap uang bukanlah segalanya. Dan yang lebih penting, mengetahui cara untuk memakai uang, itulah yang bisa membuat kita lebih bahagia. Mengumpulkan uang dan menggunakan uang adalah 2 hal yang berbeda. Kebahagiaan didapat bukan hanya karena mengumpulkan uang, melainkan tahu bagaimana menggunakannya dengan cerdas.
Segera daftarkan dirimu di event terdekat kamu!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
