Entah sadar atau tidak, semakin hari media sosial yang kita lihat semakin gencar membombardir kita dengan hal-hal sempurna namun palsu. Kesempurnaan di media sosial ini menciptakan sebuah ekspektasi tertentu dalam bayangan kita. Dan ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi, maka timbullah sebuah kesenjangan yang dapat menyebabkan rasa kecewa, anxiety, insecurity, dan problem emosi lainnya.
Alih-alih mengatasi kesenjangan antara ekspektasi dan realita, kita lebih memilih untuk menyangkali kenyataan dan menghadapinya dengan mengeluh serta menyalahkan orang lain dan keadaan atas kesulitan yang kita hadapi. Karena itu penting untuk memahami apa dan kenapa kita berekspektasi serta menemukan cara untuk menjebatani kesenjangan yang terjadi antara ekspektasi dan realita sehingga Anda dapat menciptakan kehidupan yang lebih puas dan bahaga.
APA YANG MEMBENTUK EKSPEKTASI
Informasi yang kita konsumsi dan pengetahuan kita tentang hal tertentu merupakan faktor yang paling sering berperan dalam terbentuknya ekspektasi kita. Memilah dan membatasi informasi mana yang perlu dikonsumsi dan yang tidak dapat sangat membantu terbentuknya ekspektasi yang realistis.
Pengaruh sosial seperti keluarga, teman dan masyarakat juga mempengaruhi ekspektasi kita. Penggambaran tentang kesuksesan dan hidup yang layak akan memberikan standar yang tinggi, yang sering kali mengarah pada ekspektasi yang tidak realistis.
Walau ekspektasi adalah keyakinan atau asumsi kita tentang masa depan, pengalaman masa lalu kita secara signifikan mempengaruhi ekspektasi kita.
Pikiran kita cenderung akan membentuk ekspektasi berdasarkan apa yang pernah kita alami sebelumnya.
DAMPAK REALITA TIDAK SESUAI EKSPEKTASI
Kesenjangan antara ekspektasi dan realita yang terjadi dapat menjadi sumber tekanan emosional. Ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi kita, emosi yang biasanya langsung muncul adalah kekecewaan. Jika ini terjadi berulang kali, dapat membuat frustrasi dan perasaan tidak berdaya atau hilangnya kendali.
Ketidaksesesuaian ekspektasi dan realita dapat juga berdampak signifikan pada bagaimana kita menilai diri kita. Ekspektasi yang terus-menerus tidak terpenuhi dapat mengikis rasa percaya diri, sementara ekspektasi yang terpenuhi atau bahkan terlampaui dapat meningkatkan keyakinan diri. Sebaliknya, ketika realita sesuai dengan (atau bahkan melampaui) ekspektasi kita, ini akan membuat kepercayaan diri meningkat. Memunculkan perasaan optimis, semangat, bahagia, yang berdampak positif pada kesejahteraan mental kita.
Realita yang sesuai ekspektasi membuat kita lebih berani menatap masa depan dan lebih berani untuk mengharapkan sesuatu yang lain. Namun hal ini juga bisa menjadi boomerang bagi kita. Jika kita tidak tahu bagaimana menyikapinya, kita bisa berhenti menjadi versi terbaik diri kita. Kita tidak lagi memiliki daya juang dan ketahanan yang tinggi karena kita berpikir bahwa ekspektasi kita akan tercapai dengan sendirinya.
MENJEMBATANI EKSPEKTASI DAN REALITA
Memiliki ekspektasi memang membantu kita untuk maju dan berkembang. Namun, tidak mudah untuk menghadapi realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Karena itu kita perlu memahami apakah ekspektasi kita realistis atau tidak.
Ekspektasi yang tidak realistis adalah ekspektasi yang sebenarnya tidak dapat kita capai dan seringnya di luar kendali kita. Misalnya ekspektasi agar setiap orang harus menyukai kita atau agar orang lain harus bertindak persis seperti yang kita inginkan. Ketika kita hanya mengandalkan ekspektasi yang tidak realistis, kita membuat diri kita gagal dan menghadapi kekecewaan sepanjang waktu.
Di sisi lain, ekspektasi yang realistis memperhitungkan hasil yang kita inginkan, apa yang sebenarnya dapat kita kendalikan, berapa banyak waktu dan energi yang kita miliki, dan fakta bahwa kita tidaklah sempurna.
Karena itu, renungan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk memeriksa apakah ekspektasi kita realistis atau tidak dan mengubahnya menjadi ekspektasi yang realistis.
- Apa yang saya harapkan?
Tuliskan semua ekspektasi yang muncul di pikiranmu. Baik itu untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain.
- Apa yang saya harapkan?
- Apa yang membuat saya berpikir, itu bisa saya capai?
Pikirkan apakah saat ini kamu memiliki sumber daya, keahlian, waktu dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk kamu mewujudkan ekspektasi-ekspektasimu. Eleminasi ekspektasi yang saat ini belum mungkin kamu wujudkan.
- Apa yang membuat saya berpikir, itu bisa saya capai?
- Apa yang perlu saya dilakukan?
Tentukan apa saja yang harus kamu lakukan dan buat daftar rencana / action plan harian, mingguan, bulanan, bahkan mungkin tahunan untuk mewujudkan ekspektasimu.
- Apa yang perlu saya dilakukan?
- Apa yang perlu saya benahi?
Lakukan evaluasi secara berkala. Keahlian apa yang perlu kamu pelajari? Sumber daya apa yang perlu kamu tingkatkan? Siapa saja yang perlu kamu dekati agar ekspektasimu terujud? Perbaikan yang berkelanjutan akan meminimalkan kesenjangan antara ekspektasi dan realita
- Apa yang perlu saya benahi?
BEREKSPEKTASI TANPA KECEWA
Jika Anda ingin bahagia, Anda harus terus memeriksa ekspektasi-ekspektasi Anda. Ekspektasi hanya dapat menjadi kenyataan jika itu realistis dan Anda mengambil langkah untuk mencapainya. Dengan berketetapan hati dan berusaha sungguh-sungguh untuk menggapai tujuan yang jelas dan dapat dicapai, akan menciptakan jembatan antara ekspektasi dan realita. Namun, tetaplah mempersiapkan diri untuk hasil yang tidak terduga dan beradaptasi dengan keadaan yang berubah juga sama pentingnya.
Segera daftarkan diri Anda untuk event terdekat!
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
