Dalam pengamatan saya, salah satu faktor yang membuat hubungan dan interaksi sosial menjadi sulit adalah dikarenakan adanya ketergantungan emosional.
Ketergantungan emosional adalah ketika kita mengandalkan dan memiliki ekspektasi kepada orang lain untuk peduli, memahami, dan “merawat” kondisi emosional kita. Contoh simpel: dalam dunia kerja “kantoran”, banyak orang berharap atasannya bisa memaklumi ketika ia sedang down, sedang kesulitan, atau sedang memiliki masalah pribadi yang mengganggu konsentrasinya. Ia berharap atasannya bisa menjadi “motivator” yang menolongnya bangkit.
Itu sebabnya, ketika si atasan tampak tak peduli, malah terus menuntut hasil pekerjaan, dan tidak addressing perasaan personalnya, ia bisa semakin kecewa dan demotivasi. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan emosional terhadap orang lain. Dalam hal ini, kepada atasan.
Ketergantungan emosional juga semakin nampak pada hubungan-hubungan personal seperti pertemanan, dan apalagi hubungan romansa. Seolah-olah, kedekatan hubungan mengharuskan kita untuk mengurusi dan bertanggung jawab terhadap perasaan partner kita.
KEENGGANAN MENJADI DEKAT
Ketergantung emosional, menciptakan sebuah fenomena dimana banyak orang sekarang menjadi enggan untuk memiliki hubungan dengan kedekatan emosional. Terutama dalam konteks pertemanan dan hubungan romansa. Apalagi kedekatan dalam hubungan kerja, sudah ada banyak orang yang menentang pandangan untuk menjadi akrab secara emosional dan personal dengan orang-orang yang memiliki hubungan kerja.
Fenomena menjaga jarak emosional dan keengganan untuk memiliki hubungan yang dekat ini, dikarenakan banyaknya kejadian dimana semakin dekat hubungannya, semakin kuat juga ketergantungan emosional seseorang kepada orang-orang di sekitarnya.
Tentu saja, ini terjadi secara natural karena memang kecenderungan kita adalah bergantung kepada orang yang bisa kita percaya dan dekat dengan hati kita.
Namun, jika kita tidak belajar melatih kemandirian emosional, maka kita akan terjerumus menjadi pribadi yang tidak bisa memiliki daya tahan personal. Terutama di saat-saat dimana kita tidak bisa meminta atau mengandalkan pertolongan siapapun.
MELATIH KEMANDIRIAN EMOSIONAL
Bagaimana cara kita untuk bisa melatih kemandirian emosional secara sehat dan seimbang, tanpa kehilangan keterbukaan kita terhadap hubungan dan pertolongan dari orang lain? 3 hal praktis ini bisa mulai Anda praktekkan:
- Mengembangkan Semangat Pantang Menyerah.
Ketika keadaan sedang sulit, ingatkan diri Anda untuk terus melakukan sesuatu meski itu kecil dan nampak tak berarti. Dorong diri Anda untuk mencari alternatif baru, untuk mempelajari hal baru, untuk terus mencoba hal-hal yang belum dicoba.Biasakan untuk menambahkan extra miles kepada usaha Anda. Dengan sedikit demi sedikit menarik batas usaha Anda, maka Anda sedang mengembangkan semangat pantang menyerah, sehingga secara emosional, Anda juga memiliki daya tahan pribadi yang makin kuat.
- Bangun Disiplin Hidup Pribadi.
Belajarlah membangun rutinitas kehidupan pribadi yang produktif. Misalnya, dengan bangun lebih pagi secara teratur, berolahraga secara teratur, atau membaca buku denga rutin dan konsisten. Setiap disiplin pribadi yang berhasil Anda lakukan dengan rutin, akan membangun rasa berdaya guna dalam diri dan ini akan memberikan Anda energi untuk Anda lebih tahan saat menghadapi masa-masa sulit.
- Kembangkan Keahlian Unik Anda.
Temukan keunggulan, talenta, potensi, atau keahlian unik Anda, lalu berfokuslah memberikan porsi waktu untuk mengembangkan keahlian itu secara rutin. Ketika Anda mampu mengembangkan potensi Anda menjadi keahlian yang bisa dikontribusikan, maka naluri kemandirian Anda akan semakin meningkat.
Kehidupan yang kita jalani, dipenuhi dengan berbagai musim dan situasi. Ada masanya dimana memang tidak ada orang yang bisa hadir dan menolong hidup kita. Di saat-saat seperti itulah, kemandirian emosional akan berperan untuk membuat kita bertahan dan tetap bertumbuh sekalipun sedang dalam masa sukar.
OUR NEXT EVENT
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
