Ketakutan adalah emosi dasar manusia. Ketakutan tertanam dalam sistem tubuh kita untuk tujuan yang bermanfaat, memberi sinyal kepada kita di saat-saat bahaya dan mempersiapkan kita secara fisik sehingga kita dapat melakukan apa yang diperlukan untuk bertahan hidup.
Mari kita jujur sejenak, setiap orang pasti punya ketakutan akan satu atau beberapa hal. Ketakutan mempengaruhi keputusan yang kita buat, tindakan yang kita ambil, dan hasil yang kita capai. Adalah mustahil untuk tidak pernah takut, tetapi kita perlu menyadari bagaimana ketakutan dapat menahan kita dan belajar cara melawan ketakutan kita, jika kita menginginkan kesuksesan yang lebih besar. Banyak orang berpura-pura tidak takut sehingga tidak dapat melihat bagaimana ketakutan itu mempengaruhi kehidupan mereka.
Rasa takut sering bekerja secara tidak sadar sehingga kita sering kali tidak menyadari dampak negatifnya dan kita hanya menjadi terbiasa dengannya. Hari-hari kita perlahan menjadi sedikit lebih suram karena kita merasa lebih cemas, stres, dan tertekan. Semakin sulit untuk bangun dari tempat tidur. Kita berlomba-lomba mencari uang, menjalin koneksi, dan memenuhi kebutuhan. Kita khawatir bahwa kita salah, bahwa kita tidak cukup baik, dan bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik daripada kehidupan kita.
PSIKOLOGI DIBALIK RASA TAKUT
Mempelajari cara mengatasi rasa takut dan kecemasan bisa menjadi hal yang sulit jika kita tidak memahami mekanisme di baliknya. Sebelum kita menghakimi diri sendiri karena merasa takut, sadarilah bahwa rasa takut adalah respons yang normal. Tubuh dan otak kita berkomunikasi membaca sinyal yang dapat menaklukkan rasa takut. Tony Robbins seorang coach dan penulis buku di Amerika Serikat mengatakan bahwa ada beberapa jenis rasa takut:
Ketakutan Fisik
Ketika kita berpikir tentang ketakutan, kita berpikir tentang ancaman fisik yang dipicu oleh kejadian luar yang diketahui seperti dentuman suara keras, melihat ke tepi dari tempat yang tinggi atau berdiri di depan orang banyak. Selama respons ketakutan fisik, kita akan merasakan jantung berdetak lebih cepat dan napas menjadi lebih cepat. Kita mungkin merasakan sakit pada ulu hati, merasa pusing, berkeringat atau tenggorokan kering. Otot-otot kita mungkin terasa lebih tegang atau lemah. Ini semua adalah hasil dari respons tubuh kita. Tanpa respons terhadap ketakutan, kita akan membiarkan diri kita tertimpa bahaya.
Takut Akan Ketidakpastian
Pada dasarnya, semua pikiran, keputusan, dan perilaku kita didorong oleh kebutuhan manusia. Bagi beberapa orang, kepastian adalah sebuah kebutuhan yang kuat. Kita ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan meskipun kita memang membutuhkan kepastian dalam hidup, kita sebenarnya juga membutuhkan ketidakpastian agar kita bisa lebih kreatif dan berkembang. Ketakutan akan ketidakpastian mencegah kita keluar dari zona nyaman karena ketakutan ini memberi tahu kita untuk lebih baik tetap diam di tempat yang aman. Inilah alasan sebenarnya kenapa banyak orang merasa mandek, tidak mampu mencapai tujuan mereka.
Takut Akan Kegagalan
Takut gagal adalah ketakutan umum lainnya yang berasal dari kebutuhan manusia akan kepastian dan kebutuhan untuk menjadi bermakna. Kita terprogram untuk menghindari rasa sakit dan mendapatkan kesenangan. Menghindari kegagalan tentunya merupakan cara mudah untuk menghindari rasa sakit. Kita ingin merasa penting, tetapi kegagalan membuat kita merasa kecil dan tidak penting. Namun, kita juga terprogram untuk bertumbuh dan seperti yang diketahui oleh setiap orang sukses, kegagalan mengarah pada pertumbuhan. Kita harus mengubah pola pikir tentang kegagalan dan menganggapnya sebagai hal yang positif, bukan negatif.
HADAPI RASA TAKUT
Menghadapi rasa takut bisa menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun, terkadang itu adalah cara terbaik untuk mengatasi perasaan cemas atau khawatir yang berlebihan. Salah satu cara paling sederhana untuk mengatasi rasa takut adalah melakukan hal yang membuat kita cemas dan menimbulkan rasa takut. Kuncinya adalah dengan mendorong diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang sedikit menjauhkan kita dari zona nyaman. Ini bukan tentang menempatkan diri dalam situasi berbahaya, tetapi tentang belajar mengatasi rasa takut yang tidak rasional.
Mungkin perlu waktu untuk mencapai titik di mana kita tidak lagi merasa khawatir atau cemas. Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika merasa butuh waktu lebih lama dari yang diharapkan. Mulailah menghadapi rasa takut secara bertahap. Misalnya, jika Anda memiliki kecemasan sosial, Anda dapat mengurangi rasa takut dengan tersenyum kepada orang-orang yang lewat. Kemudian, saat tingkat kenyamanan Anda meningkat, Anda dapat melakukan hal yang lebih besar seperti menyapa, mengajukan pertanyaan, atau memulai percakapan.
Menariknya, jika kita perhatikan dengan saksama, rasa takut kita tidak pernah tentang apa yang telah terjadi. Rasa takut selalu tentang apa yang mungkin terjadi. Rasa takut selalu tentang masa depan. Masa depan belum terjadi. Belum terjadi sekarang. Ini berarti, masa depan sebenarnya tidak ada saat ini. Jadi, merasa takut berarti kita menderita karena sesuatu yang tidak ada.
Kita dapat merencanakan hari esok tetapi kita tidak dapat menghidupi hari esok kita saat ini. Namun banyak orang berusaha hidup di hari esok dan itulah sebabnya muncul ketakutan. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah kembali pada kenyataan. Jika kita hanya menanggapi apa yang ada saat ini dan tidak membayangkan sesuatu yang tidak ada, tidak ada ruang untuk ketakutan.
MERANGKUL KETAKUTAN
Ada perbedaan penting antara menghadapi ketakutan dan merangkulnya. Keduanya bisa menjadi solusi yang berharga, tetapi cara kerja yang sedikit berbeda. Menghadapi ketakutan berarti mengambil tindakan untuk menghadapi apa yang membuat kita takut. Saat itulah kita membuat pilihan sadar untuk menghadapi ketakutan dan mengurangi dampaknya terhadap kita.
Saat kita merangkul ketakutan, kita mulai melihat ketakutan sebagai peluang untuk tumbuh, bukan sekadar hambatan. Alih-alih memandang ketakutan sebagai sesuatu yang negatif, kita mengakui bahwa itu adalah tanda kita melangkah keluar dari zona nyaman. Merangkul ketakutan tidak berarti berhenti merasa takut. Ini berarti kita menerima ketakutan dan melihatnya sebagai tantangan yang akan membantu kita tumbuh lebih kuat.
Misalnya, Anda takut berbicara di depan umum. Menghadapi ketakutan itu mungkin berarti secara bertahap merasa nyaman dengan berbicara di depan kelompok kecil, berbicara dalam panggilan Zoom, atau berlatih pidato atau presentasi di depan cermin. Kita menghadapi rasa takut berbicara di depan umum dengan cara yang kita tentukan.
Di sisi lain, merangkul rasa takut berarti menyadari bahwa ketakutan yang kita rasakan sebelum berbicara adalah bagian normal dari dorongan diri dan tidak apa-apa untuk merasa seperti itu. Setelah jangka waktu tertentu, kita mungkin mulai menemukan kegembiraan dalam tantangan tersebut karena kita tahu hal itu membantu kita berkembang.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
