Di tengah berkembang pesatnya kecerdasan buatan (AI) yang terus mengubah dan membentuk kembali cara kita bekerja, AI tidak diragukan lagi telah merevolusi berbagai sektor, memperkenalkan otomatisasi, pengambilan keputusan berbasis data, dan peningkatan efisiensi. Namun, di tengah kemajuan teknologi, unsur manusia tidak dapat diabaikan.
Menurut Survei CEO Global 2024, 7 dari 10 CEO percaya bahwa AI akan secara signifikan mengubah perusahaan mereka selama tiga tahun ke depan. 41% percaya bahwa AI akan meningkatkan pendapatan. Sepertinya semakin banyak pekerjaan yang akan digantikan oleh AI dan yang memerlukan penggunaan AI. Namun dalam kebanyakan kasus, AI tidak akan menggantikan seluruh pekerjaan, hanya mempercepat atau mengotomatiskan hal-hal tertentu dari pekerjaan tersebut.
Kekuatan AI terletak pada kemampuan memproses data dalam jumlah besar dengan cepat dan akurat, tetapi keterbatasan AI menjadi jelas saat harus berhadapan dengan kompleksitas perilaku manusia.
KETERBATASAN EMOSIONAL AI
Melalui teknologi seperti pengenalan wajah, analisis suara, dan deteksi sentimen, AI dapat mengenali emosi sampai batas tertentu dan menyimpulkan keadaan emosional seperti kebahagiaan, kemarahan, atau frustrasi. Namun, deteksi tersebut sering kali terbatas pada tanda-tanda permukaan saja dan tidak mampu untuk berempati dengan orang lain atau memahami nuansa emosional suatu situasi.
AI tidak memiliki kecerdasan emosional (EQ) dalam pengertian manusia karena tidak memiliki kesadaran diri dan kemampuan untuk mengalami emosi. EQ bukan hanya tentang mengenali tanda-tanda emosional; tetapi juga tentang menafsirkannya melalui lensa pengalaman pribadi, nilai-nilai, dan konteks sosial. Ini adalah kemampuan yang sangat manusiawi yang muncul dari kesadaran, hubungan, dan pengalaman hidup yang tidak dimiliki AI.
Bayangkan kehangatan yang penuh perhatian dari seorang agen layanan pelanggan, pesan yang tepat dari seorang dokter yang menjelaskan kepada pasien mengapa harus minum obat, seorang tenaga penjual terampil yang memberi tahu mengapa suatu produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan, atau pekerjaan lain seperti perawat, guru, yang membutuhkan kepedulian dan kepercayaan.
Kemampuan manusia yang seperti ini akan semakin penting bagi banyak pekerjaan di masa depan. Untuk kepemimpinan, kerja sama tim, penjualan, dan untuk apa pun yang membutuhkan empati dan kepekaan terhadap nuansa emosional.
EQ SAMA PENTINGNYA DENGAN AI
Seperti yang kita semua ketahui, AI akan mengubah masa depan dunia kerja. Jika kita melihat para pekerja yang sangat terampil dan memperoleh gaji tinggi setidaknya mereka memiliki tiga keterampilan berikut: mampu untuk mengerjakan tugas-tugas rutin dengan cepat dan akurat, mampu untuk memutuskan dan bertindak berdasarkan penilaian yang tepat, serta mampu memahami, mempengaruhi, dan mengarahkan orang lain. AI akan dengan cepat melampaui dua keterampilan pertama. Namun tidak dengan keterampilan ketiga.
Ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap kondisi emosional.
Mereka yang ingin tetap relevan dalam karir profesi mereka perlu fokus membangun keterampilan yang sulit ditiru oleh kecerdasan buatan. Kemampuan untuk memahami, memotivasi, dan berinteraksi dengan manusia. Mesin pintar mungkin dapat mendiagnosis penyakit dan bahkan merekomendasikan perawatan lebih baik daripada dokter. Namun, diperlukan seseorang untuk duduk bersama pasien, memahami situasi kehidupan mereka (keuangan, keluarga, kualitas hidup, dll.), dan membantu menentukan rencana perawatan yang optimal.
Serupa dengan itu, AI mungkin dapat mendiagnosis masalah bisnis yang kompleks dan merekomendasikan tindakan untuk meningkatkan kemajuan organisasi. Namun, diperlukan seseorang untuk memotivasi dan memacu kinerja tim dan memimpin kepada sebuah perubahan.
Kemampuan manusia inilah yang akan selalu dibutuhkan dan semakin dihargai di masa yang akan datang. Sayangnya, keterampilan yang berorientasi pada manusia ini umumnya dipandang sebagai prioritas kedua dalam hal pelatihan dan pendidikan.
AI DAPAT MENINGKATKAN EQ
Penggunaan AI mendegradasi hal-hal yang mendefinisikan kita sebagai manusia seperti kesadaran diri, pengelolaan diri, empati, dan keterampilan sosial. Lalu bagaimana kita bisa memastikan AI tidak menghilangkan itu semua dan justru dapat meningkatkan EQ kita?
- Tetap sadar
Self-awareness dan social-awarness adalah landasan EQ. Apakah dalam membuat kesimpulan atau keputusan, kita membiarkan algoritma AI mendikte kita tanpa memeriksa situasi, kondisi ataupun perasaan kita dan orang lain? - Prioritaskan berinteraksi dengan sesama
Gunakan AI untuk melengkapi, bukan menggantikan kolaborasi antar manusia. Misalnya, AI untuk menangani tugas-tugas yang berulang (seperti analisis data atau penjadwalan) sambil menyediakan waktu untuk diskusi dengan tim dan membangun hubungan. Hal ini membuat kita tetap terlibat dalam aktivitas yang cerdas secara emosional daripada menjadi terisolasi karena terlalu bergantung pada teknologi. - Manfaatkan AI untuk meningkatkan empati
Gunakan AI untuk memberikan wawasan yang dapat meningkatkan EQ. Misalnya dengan alat analisa sentimen yang dapat menandai kondisi frustrasi pelanggan sehingga mendorong kita untuk menanggapi dengan lebih hati-hati dan empati. Pengelolaan data oleh AI dapat membantu menginformasikan keputusan yang bijaksana dan tepat.
Pada akhirnya, AI dapat membuat kita terpesona dengan kemampuannya dan bahkan berpura-pura berempati, tetapi tidak dapat meniru kedalaman EQ yang mendefinisikan hubungan antar manusia. Seiring AI terus berkembang di dunia kerja, tantangan bagi kita menjadi sangat jelas, yaitu memanfaatkan kekuatannya untuk meningkatkan produktivitas bukan sebagai pengganti sentuhan jiwa manusia.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
