Akhir-akhir ini, marak beredar pembahasan mengenai “Quarter Life Crisis” (QLC) dan “Mid Life Crisis” (MLC). Kedua hal tersebut sering diasosiasikan sebagai salah satu permasalahan psikologis yang dianggap menjadi ancaman bagi kesehatan mental. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa kedua hal tersebut adalah sindrom penyakit mental yang serius.
Kata “krisis” yang dipakai, membuat konotasi dan asosiasi orang langsung mengarah kepada sesuatu yang negatif. Sehingga, banyak orang mencoba menghindari dan mencegah agar tidak mengalami “krisis” tersebut. Dan, jika ternyata tetap mengalaminya juga, kebanyakan orang langsung merasa dirinya sedang bermasalah, karena terjebak ke dalam sebuah keadaan yang disebut “krisis”.
Erik H. Erikson, dalam bukunya “The Life Cycle Completed” mengemukakan 8 tahap perkembangan psikologi seorang manusia, sejak lahir hingga meninggal. Kemudian, seorang aktivis fatherhood bernama Cassie Carsten, mengkombinasikan teori Erikson, dengan pengalamannya selama 40 tahun berkeliling dunia dan aktif melatih begitu banyak orang untuk memaksimalkan fungsi peran orang tua dalam keluarga.
Dalam bukunya “The World Need A Father”, Carsten mengembangkan teori Erikson menjadi 7 tahap perkembangan emosional seseorang. Pada dasarnya, teori Erikson dan Carsten mirip.
Fase Lepas Landas Dan Rekalibrasi
Kedua orang tersebut, menunjukkan bahwa pada fase usia 22-25 tahun, seorang manusia memasuki fase yang disebut dengan fase “Take Off” atau lepas landas. Pada fase ini, seseorang sudah mulai mandiri dan meninggalkan “rumah” (tidak selalu secara fisik keluar dari rumah dan tinggal sendiri, melainkan lebih kepada secara mental, ingin bisa memutuskan sendiri).
Di fase ini, seseorang mulai bertanya “apa yang saya inginkan?”, ia mulai merangkai mimpi dan membangun kehidupannya sendiri. Di fase ini, target pencapaian menjadi incaran, dan tidak jarang, semangat kompetisi dengan orang lain untuk mengukur kualitas diri, mulai bangkit lebih bergejolak dari sebelumnya.
Di fase inilah, kita sering disebut dalam keadaan QLC.
Sementara, di usia 37-43 tahun, seorang manusia disebut memasuki fase “Rekalibrasi”. Pada fase ini, seseorang mulai mempertanyakan semua yang ia lakukan selama ini. Kesadaran akan kematian yang mulai mendekat, mulai muncul, membuat seseorang mulai bertanya apa makna kehidupan, apa yang sesungguhnya ia inginkan, apakah yang ia bangun selama ini sudah memuaskan, dan ia mulai semakin berhati-hati untuk menentukan arah kehidupan berikutnya, karena mengetahui tidak akan ada lagi jalan memutar balik dengan fase usia yang sekarang.
Di fase ini, kita sering disebut dalam keadaan MLC.
Fase "Krisis"?
Namun, kedua fase itu, benarkah adalah sebuah fase krisis dalam kehidupan psikologi seorang manusia?
Saya pribadi, tidak menyetujui penggunaan kata krisis, karena sekalipun kita sedang berada di fase tersebut, bukan berarti kita sedang mengalami krisis. Saya mengambil contoh, misalnya perkembangan seorang bayi yang baru lahir. Ada bulan-bulan tertentu dimana bayi berkembang dengan sangat cepat dan itu memunculkan kebingungan dalam dirinya (maupun orang tuanya). Perkembangan cepat itu bisa membuat si bayi lebih rewel dari biasanya karena ia sedang mencoba memahami dan beradaptasi dengan situasi barunya.
Tapi apakah itu bisa disebut krisis? Mungkin tidak nyaman iya, dan mungkin membuat orang tuanya mengeluarkan usaha lebih untuk menghadapi situasi itu, tetapi tidak selalu itu adalah sebuah krisis. Kalau kita memandang fase si bayi itu sebagai sebuah krisis, maka kita akan memandangnya sebagai sebuah masalah/ancaman. Padahal, realitanya, itu adalah sebuah perjalanan alamiah yang hanya membutuhkan manajemen dan adaptasi saja.
Misalkan, ketika bayi mulai bisa berjalan. Selain excited, bayi juga akan heran, bingung, dan takut di saat bersamaan. Orang tua mulai kelimpungan menjaga anaknya. Sebuah perubahan yang mengguncang kebiasaan yang selama ini sudah berjalan stabil. Tapi, apakah itu bisa disebut krisis?
Bisa iya, bisa tidak, tergantung bagaimana kita meresponinya. Sebagian orang memandangnya sebagai sebuah kemajuan yang perlu dirayakan, sebuah momen kebahagiaan, pencapaian, dan terobosan. Tapi bagi mereka yang merasa itu beban, fase itu mungkin akan menjadi krisis baginya.
Begitu pula dengan QLC dan MLC, keduanya adalah fase alamiah. Justru kedua fase itu adalah momen dimana kita sebagai manusia, secara psikologis, mulai berkembang, bertumbuh, dan mulai membuka potensi untuk mencapai lebih dari sebelumnya.
Hanya karena kita mempertanyakan hidup kita, mengevaluasi nilai-nilai kita, dan mencoba mencari-cari, bukan berarti kita sedang mengalami krisis.
Insecurity Adalah Biang Krisis
Justru, seringkali krisisnya bukan pada fase Quarter Life, atau Mid Life’nya, melainkan pada insecurity yang ‘menunggangi’ fase itu. Tidak perlu menunggu quarter atau mid life, dengan adanya insecurities, kita bisa mengalami krisis mental, pada usia kapanpun.
Wajar untuk mempertanyakan apa mimpi yang ingin kita capai. Tapi menjadi masalah ketika kita mulai membandingkan mimpi kita dengan orang lain, dan menjadi insecure dengan mimpi orang lain yang nampak lebih hebat dan keren.
Wajar untuk bertanya apakah hidup yang kita miliki saat ini adalah hidup yang memuaskan. Tetapi menjadi masalah ketika kita mempertanyakannya karena kita melihat kehidupan orang lain yang nampaknya lebih hebat dari hidup kita.
Jadi, krisisnya, bukan dikarenakan fase alamiahnya, melainkan karena “Virus” insecurity yang menempel dan mengkontaminasi mental kita, sehingga ketika fase lepas landas dan rekalibrasi datang, kita menjadi lebih terguncang dari seharusnya.
Padahal, jika dijalani dengan mental yang tenang dan dewasa, justru fase lepas landas dan rekalibrasi, menjadi fase yang menumbuhkan dan membuat kita menjadi semakin tajam, produktif, dan lebih berbuah dari sebelumnya!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
