Dalam interaksi sehari-hari, kita sering kali mendapati diri kita membuat kesimpulan tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dimaksudkan orang lain hanya berdasarkan asumsi kita. Meskipun ini mungkin wajar, asumsi dapat menghalangi kemampuan kita untuk mendengarkan secara aktif dan benar-benar memahami orang lain. Asumsi dapat menjadi “silent killer” dalam hubungan apa pun baik dalam interaksi pribadi maupun usaha profesional, yang menyebabkan kesalahpahaman, perasaan terluka, dan bahkan rusaknya hubungan.
Kita sibuk berasumsi bahwa kita tahu apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain dan akhirnya terlambat menyadari bahwa asumsi kita jauh dari kenyataan. Kita berasumsi yang terburuk tentang niat seseorang, menimbulkan keraguan dan kecurigaan yang mungkin tidak ada. Dan yang terburuk dari semuanya, kita berasumsi bahwa orang lain seharusnya memahami kita tanpa komunikasi yang jelas, yang menyebabkan frustrasi dan kekecewaan ketika mereka tidak memenuhi harapan kita yang tak terucapkan.
Namun, inilah masalahnya: asumsi bukanlah analisa, asumsi bukanlah prediksi. Asumsi didasarkan pada informasi yang tidak lengkap, perspektif yang bias, dan pengalaman masa lalu yang mungkin tidak relevan dengan situasi saat ini. Apa yang mungkin benar dalam satu situasi atau untuk satu orang tertentu belum tentu berlaku untuk orang lain. Dengan berasumsi, kita sedang membuang kesempatan untuk benar-benar terhubung dengan orang lain.
Jadi, bagaimana kita memerangi pengaruh asumsi yang berbahaya pada hubungan?
TAHU DARI MANA ASUMSI BERASAL
Menurut Kamus Cambridge Advanced Learner, asumsi adalah sesuatu yang kita terima sebagai kebenaran tanpa pertanyaan atau bukti. Sungguh mengherankan betapa banyak dari kita yang percaya pada asumsi kita sebagai kebenaran mutlak. Asumsi terbentuk dari pikiran, keyakinan, dan opini kita. Namun, dari mana semua itu berasal? Sejak kita lahir ke dunia, kita dipengaruhi oleh segala hal di sekitar kita. Orang tua kita memutuskan cara membesarkan kita. Mereka mengajarkan kita tentang nilai-nilai yang mereka inginkan dalam hidup kita. Setiap pengalaman yang kita miliki berkontribusi pada pikiran, keyakinan, dan opini tersebut.
Kita terus-menerus dipengaruhi. Keluarga, teman, pasangan, guru, atasan, dan rekan kerja kita semuanya mempengaruhi pikiran bawah sadar kita. Dan satu hal yang sangat berperan hari-hari ini adalah Media Sosial. Hampir 2,5 miliar orang di seluruh dunia yang menggunakan Instagram secara tidak langsung mempengaruhi kita, bukan lagi hanya orang-orang terdekat kita. Belum lagi semua yang kita lihat dan baca di gadget kita.
Lalu ada juga stereotip, kita menilai orang berdasarkan penampilan dan perilaku mereka hanya karena “standar” tertentu yang diciptakan oleh masyarakat. Ketika kita menilai sebuah stereotip, kita tidak bisa melihat orang/situasi yang sesungguhnya di depan kita karena kita merasa “sudah tahu” tentang mereka.
MEMAHAMI CONSEQUENTIAL THINKING
Membuat asumsi adalah hal yang wajar. Ini seperti otak kita menyederhanakan berbagai hal untuk menghemat energi dalam memahami berbagai hal. Mustahil menjalani hidup tanpa asumsi. Namun, cara kita menghadapi setiap situasi yang kita hadapi dapat berdampak besar pada kehidupan kita baik secara pribadi maupun profesional.
Ada sisi positif dan negatif dari asumsi. Bayangkan Anda berjalan-jalan dengan perasaan bahwa Anda dapat melakukan sesuatu yang lebih dalam hidup Anda. Katakanlah Anda ingin berhenti dari pekerjaan 9-5 dan menjadi pekerja lepas yang ahli. Jika Anda berasumsi bahwa Anda memiliki kemampuan yang sudah terbukti, Anda akan memiliki keberanian untuk melakukannya.
Di sisi lain, jika Anda takut dan berasumsi bahwa Anda akan gagal karena Anda belum pernah mencobanya sebelumnya, Anda akhirnya tidak akan melakukannya dan mungkin menyesali keputusan itu selama sisa hidup Anda. Anda akan terjebak di tempat kerja yang menyedihkan yang sangat ingin Anda hindari.
Anda sendirilah yang memutuskan kemana pikiran Anda akan membawa Anda.
Hal yang sama berlaku untuk orang-orang yang kita temui. Terutama, orang-orang yang tidak kita kenal. Mereka sering kali punya cerita, sudut pandang, dan alasan mereka sendiri mengapa mereka seperti itu. Jika kita salah menilai seseorang, kita mungkin akan kehilangan hubungan atau peluang yang besar.
TANTANG ASUMSI ANDA
Terkadang, kita mengubah sesuatu yang hebat menjadi sesuatu yang buruk hanya karena berasumsi alih-alih memeriksa fakta. Dengan menantang asumsi, Anda dapat menemukan potensi baru di semua aspek dalam hidup Anda, mulai dari pemecahan masalah di pekerjaan, masalah dalam hubungan, hingga cara Anda memandang diri sendiri serta kehidupan yang Anda miliki.
Menantang asumsi membutuhkan kesadaran dan pikiran terbuka. Dimulai dengan kemauan untuk menjadi lebih reflektif, bersedia melepaskan “kebenaran” kita, dan meninjau kembali pemikiran yang kita pegang. Memeriksa pikiran dan keyakinan sendiri adalah tindakan yang berani. Ini tidak mudah. Anda harus keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru untuk mendapatkan perspektif baru. Namun, begitu Anda melakukannya, Anda akan menyadari bahwa hubungan Anda akan membaik seiring berjalannya waktu, dan peluang baru muncul seiring Anda meningkatkan pola pikir.
Menantang asumsi perlu dilakukan secara sadar. Secara aktif mempertanyakan keyakinan, bias, dan sudut pandang yang mendasari Anda untuk membuka wawasan yang lebih dalam, memberikan perspektif alternatif, dan menyempurnakan pengambilan keputusan. Mulailah lebih menyadari asumsi Anda dengan mempertanyakan: “Mengapa Saya menyimpulkan ini?”.
Setiap kali Anda mendapati diri Anda membuat asumsi, berhentilah dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini berdasarkan fakta atau apakah saya mengisi kekosongan dengan keyakinan saya sendiri?” Sesuaikan juga pola pikir Anda karena pengalaman masa lalu mungkin tidak lagi relevan untuk masa sekarang.
RASA INGIN TAHU DIATAS ASUMSI
Tanpa sadar kita membuat pilihan berdasarkan asumsi kita. Kita berasumsi tentang hal-hal seperti bagaimana kita seharusnya bekerja, bagaimana kita seharusnya hidup, bahkan bagaimana kita seharusnya menjalani sebuah hubungan hanya karena “selalu seperti itu” atau “itulah yang dilakukan semua orang”.
Sebuah hubungan yang kuat, baik itu dalam ranah pribadi maupun profesional, selalu dibangun diatas dasar kepercayaan, pengertian, dan rasa saling menghormati. Semua itu tidak akan berhasil jika asumsi mendominasi. Alih-alih berasumsi, tumbuhkanlah rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu menciptakan ruang untuk kita bisa lebih memahami. Ketika kita mau meluangkan waktu sejenak untuk berbicara daripada berasumsi, kita akan menemukan pemahaman baru dan pengenalan yang lebih dalam.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
