Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10). Ini adalah salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam Alkitab. Membuat kita sebagai orang percaya bertanya-tanya apakah ini berarti uang itu jahat?
Memang jika kita tidak menggali lebih dalam makna konteks ayat ini, kita akan menjadi sangat bingung. Tidak jarang dari kita bersikap seolah-olah uang adalah hal yang buruk. Kebanyakan dari kita bekerja 40 jam seminggu hanya untuk menghasilkan uang dan berpikir, jika itu bukan cinta, apa itu?
Ayat ini yang dikatakan Paulus kepada Timotius dalam surat pribadinya ini mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar “uang itu buruk”atau “kamu seharusnya tidak menginginkannya”. Paulus menyampaikan poin yang lebih dalam tentang bagaimana menjalani hidup kita untuk sebuah visi dan tujuan yang lebih besar daripada uang sehingga kita tahu cara menggunakan uang itu dengan baik.
Alkitab menjelaskannya dengan jelas, uang bukanlah akar dari segala kejahatan, tetapi mencintai uang adalah akarnya. Ada perbedaan yang sangat besar. Uang hanyalah alat yang “menyebabkan” kita bisa membeli atau mendapatkan sesuatu. Seperti pisau, uang dapat digunakan untuk membantu atau menyakiti. Cara kita menggunakan uang sebenarnya mencerminkan apa yang ada di hati kita.
APA ITU CINTA UANG?
Cinta uang melibatkan penilaian, pengejaran, kebergantungan dan kepercayaan yang lebih besar kepada uang daripada kepada Tuhan. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada Mamon dan Tuhan pada saat yang bersamaan.
Cinta uang akan menuntun orang untuk melakukan segala macam dosa seperti perzinahan, pelacuran, pembunuhan, pencurian, penyuapan, dan sebagainya. Para pecinta uang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang tanpa mempertimbangkan moralitasnya. Bukan hanya orang-orang yang tidak percaya yang bisa jatuh cinta pada uang, orang percaya sekalipun juga menjadi pencinta uang.
BUKAN HAL BARU
Bahkan kehidupan orang percaya di masa lalu, dengan sempurna meneguhkan ayat 1 Timotius 6:10 ini. Yudas Iskariot salah satu dari dua belas murid Yesus adalah salah satu tokoh sejarah yang menjadi korban cinta uang dan ia menunjukkannya dengan sempurna. Yudas Iskariot seperti manusia lainnya, memiliki kelemahan. Kelemahannya adalah keserakahan akan uang. Akibatnya, ia menjadi pencinta uang.
Pada masa itu, orang-orang menyumbangkan uang untuk pelayanan Yesus. Sumbangan tersebut dikumpulkan dan dipercayakan kepada Yudas Iskariot untuk disimpan. Tetapi karena cinta uang, Yudas mulai mencuri uang dari kotak uang untuk dirinya sendiri (Yohanes 12:4-6).
Tidak puas sampai di situ, ia menginginkan lebih. Tetapi bagaimana ia bisa mendapatkan lebih banyak? Setan merasukinya dan Ia mulai melihat tuannya sendiri, Yesus, sebagai harga yang harus dibayar. Ia dengan berani pergi menemui musuh-musuh Yesus, para pemimpin agama Yahudi, dalam upaya mengkhianati Yesus demi uang. Akhirnya Yudas Iskariot mengkhianati Yesus untuk mendapatkan lebih banyak uang, tiga puluh keping perak (Matius 26:15).
RASA CUKUP & KRISIS IDENTITAS
Rasa tidak pernah cukup merupakan tanah tempat cinta uang tumbuh. Rasa tidak pernah cukup tampak seperti dosa sepele karena itu hanya terlihat seperti “berharap” memiliki lebih banyak. Namun pada dasarnya, orang yang tidak merasa cukup menganggap diri mereka harus terus mencapai dan mendapatkan yang lebih.
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6).
Cinta uang juga merupakan dampak dari krisis identitas. Banyak dari kita lupa siapa diri kita, siapa Tuhan, tentang apa hidup ini, dan tentang kekekalan yang akan datang sehingga terjebak dalam krisis identitas yang membuka pintu menuju cara hidup cinta uang, yang merupakan penyebab segala jenis kejahatan demi kesenangan, harta benda, dan pengalaman sesaat.
UANG ADALAH ALAT UNTUK KERAJAAN ALLAH
Tanyakan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan ini: Bagaimana saya memandang uang? Apa yang penting bagi saya? Seberapa besar nilai uang dimata saya jika semua yang saya miliki hilang?
Sebagai seorang percaya kita sepatutnya melihat semua yang ada adalah milik Tuhan dan kita hanyalah pengelolaNya. Uang bukanlah tempat dimana tujuan dan nilai-nilai kita diletakkan. Pikirkan bagaimana kita bisa menjadi lebih efisien dalam menggunakan uang dan apa yang dapat kita berhenti melakukan apa yang tidak berkaitan dengan Tuhan dan pekerjaanNya. Kita akan melihat uang sebagai alat yang akan membantu kita mencapai tujuan kita dan bukan sebagai tujuan itu sendiri. Uang hanyalah kendaraan yang membawa kita ke tujuan kita.
Langkah praktis agar kita bisa menggunakan uang dengan bijak adalah dengan berpikir terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Menetapkan sebuah tujuan berarti memberi tahu kepada uang kita apa yang harus dilakukan, membantu kita menyusun rencana keuangan yang baik dan membantu kita membuat keputusan keuangan yang lebih baik. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup terbaik yang memuliakan Tuhan tanpa penyesalan.
Uang itu seperti mobil, tidak dapat membawa kita ke mana pun tanpa seorang pengemudi. Salah satu alasan mengapa Tuhan memberi kita uang, kekayaan dan harta benda adalah agar kita dapat menggunakannya sebagai alat untuk menyebarkan Injil dan memajukan Kerajaan Allah. Tuhan tidak memberi kita semua yang kita miliki hanya untuk kesenangan kita. Dia memberi kita semua yang kita miliki agar kita dapat menggunakannya sebagai alat untuk membantu mereka yang membutuhkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa ada Tuhan yang peduli kepada mereka.
Sudahkah Anda menggunakan uang Anda sebagai alat untuk kemuliaan Tuhan?
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
