Saat Anda menjadi seorang pemimpin, Anda harus terlebih dahulu mengajukan dua pertanyaan mendasar kepada diri Anda sendiri: “Mengapa saya ingin memimpin?” dan “Apa tujuan saya memimpin?”. Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sangat mendalam. Dalam proses mencari jawabannya pun mungkin akan memerlukan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup.
Para pemimpin yang tujuan utamanya adalah mencari kekuasaan atas orang lain, kekayaan tak terbatas, atau ketenaran yang berasal dari kesuksesan cenderung akan memanfaatkan orang lain untuk memberi mereka rasa puas yang sementara dan untuk membuktikan siapa diri mereka. Baik di depan banyak orang, maupun saat sendiri, mereka menunjukkan sifat mementingkan diri sendiri.
DAMPAK SEORANG PEMIMPIN
Pemimpin adalah alasan orang-orang akan menjadi berprestasi (excel) dan juga alasan orang-orang akan pergi (exit). Banyak dari kita percaya bahwa alasan utama orang berhenti dari pekerjaan adalah karena gaji atau keluar dari sebuah organisasi karena organisasi tersebut bermasalah. Namun kenyataannya tidak demikian.
Menurut survey yang dilakukan oleh Gallup, yang melibatkan lebih dari satu juta pekerja, kepemimpinan yang buruk adalah alasan nomor satu kenapa seseorang pergi meninggalkan organisasi. Sebanyak 50% orang meninggalkan organisasi untuk menjauh dari pemimpin mereka. Tetapi berapa banyak dari kita yang pernah berpikir dan sadar bahwa sebagai pemimpin, kita mungkin menjadi penyebab mereka pergi? Berapa banyak dari kita bertanya pada diri sendiri, ketika seseorang meninggalkan tim kita, apakah itu karena saya, sesuatu yang saya lakukan, atau bahkan, sesuatu yang tidak saya lakukan?
BELUM SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI
Kepemimpinan adalah kerja keras yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri. Banyak orang gagal sebagai pemimpin bukan karena mereka kurang pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan kepemimpinan yang baik. Kekurangan kita sebagai pemimpin biasanya karena urusan yang belum selesai dalam diri kita, problem emosional kita, seperti menyembuhkan luka lama atau trauma-trauma di masa lalu, pengejaran akan pengakuan dan pencapaian agar muncul kepercayaan diri, atau pencarian jati diri dan rasa berharga.
Pemimpin yang tidak memiliki rasa aman (insecure) akan kesulitan untuk berempati dengan orang lain. Sulit mendorong tim bahkan memberikan apresiasi. Jika pemimpin tidak merasa aman, maka akan sulit menjadi pemimpin yang memberikan rasa aman.
Apa yang hilang dari seorang pemimpin sesungguhnya adalah apa yang hilang dalam diri pemimpin itu sendiri.
Orang yang belum selesai dengan diri sendiri dan masa lalunya, cenderung akan berfokus pada kepuasan dari luar ketimbang kepuasan batin. Mereka mungkin berharap pada rekan kerja atau orang-orang yang mereka pimpin untuk memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Seseorang tidak akan dapat menjadi pemimpin yang seharusnya. Alih-alih memimpin, mereka malah berjuang dalam usaha memperbaiki diri sendiri.
PEMIMPIN YANG MERANGKUL
Tidak ada yang peduli seberapa banyak pengetahuan kita sampai mereka tahu seberapa besar kepedulian kita. Seorang pemimpin perlu merangkul orang-orang yang mereka pimpin dan mengambil langkah-langkah untuk memastikan mereka merasa bahwa mereka adalah aset paling berharga bagi kita dan organisasi. Sebagian besar pemimpin kurang mengetahui tentang orang-orang yang mereka pimpin. Apakah kita tahu apa yang mereka lewatkan? Apakah kita tahu apa yang mereka butuhkan untuk merasa terlibat dan bahagia?
Apa yang kita rasakan dipengaruhi oleh apa yang benar-benar kita hargai dan cara kita termotivasi juga berbeda-beda. Luangkan waktu untuk mempelajari lebih lanjut tentang keinginan dan kebutuhan orang-orang yang kita pimpin. Luangkan waktu untuk memahami siapa mereka dan apa yang mendorong mereka.
Salah satu cara paling sederhana untuk merangkul adalah dengan mendengarkan masalah mereka dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Apa yang Anda butuhkan dari saya?”. Pertanyaan sederhana ini menunjukkan bahwa kita mau mendengarkan dan menanggapi kesulitan mereka dengan serius. Pertanyaan ini juga menunjukkan bahwa kita memahami mereka.
INSPIRASI BUKAN SEKEDAR POSISI
Pandangan tradisional tentang kepemimpinan seringkali berkisar pada jabatan, hierarki, wewenang dan kemampuan membuat keputusan. Akan tetapi, hakikat kepemimpinan jauh melebihi sebuah jabatan dan posisi dalam struktur organisasi. Menjabat sebagai pemimpin tidak sama dengan memimpin. Untuk memimpin, diperlukan kemampuan tersendiri bagaimana cara kita berpikir dan bertindak bisa mempengaruhi orang lain. Untuk memimpin, kita harus mampu terhubung dengan orang-orang yang kita pimpin, memotivasi dan menginspirasi mereka serta menciptakan rasa memiliki terhadap tujuan bersama.
Pemimpin memahami bahwa tujuan adalah sebuah kekuatan pendorong yang melampaui aturan organisasi mana pun. Seorang pemimpin yang hebat memiliki tujuan yang jelas serta terampil dalam mengkomunikasikannya dengan cara yang menginspirasi, memotivasi, dan menyatukan individu menuju tujuan bersama.
Meskipun posisi dan otoritas dapat menggerakan orang dan menegakkan peraturan, pemimpin sejati menginspirasi dan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang dipimpin. Mereka dapat mempengaruhi pikiran, tindakan, dan sikap orang, bukan karena mereka mendikte tetapi karena mereka menginspirasi. Mereka tidak bergantung pada gelar mereka untuk mendapatkan rasa hormat. Mereka mendapatkan rasa hormat melalui tindakan mereka.
Sudah siapkah Anda untuk memimpin?
Segera daftarkan diri Anda untuk event terdekat!
Upcoming Events
- There are no upcoming events.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
