Tidak ada orang yang suka ditolak. Bahkan ada sebuah istilah dalam bahasa inggris berbunyi: i would not take a no answer, yaitu “saya tidak akan menerima kata “tidak” sebagai jawaban. Namun, sekalipun kita tidak suka ditolak, tapi realita kehidupan sudah memperlihatkan bahwa tidak seorang pun bisa lepas dari penolakan. Kita semua pasti pernah ditolak (dan menolak).
Di sinilah masalahnya. Kita tidak suka ditolak, tapi kita tak bisa menghindari penolakan. Banyak orang tidak tahu bagaimana berhadapan dengan penolakan dan akhirnya berakhir hanya di sisi “tidak suka ditolak” saja, tanpa tahu harus berbuat apa.
Hal ini, yang sering menjebak seseorang dalam sakit hati berkepanjangan karena mengalami penolakan.
Ditolak, Memang Benar-benar Menyakitkan
Sebuah studi menunjukkan, bahwa saat kita ditolak (dalam interaksi sosial), ada bagian dari otak kita yang menjadi aktif dan menariknya, bagian yang aktif itu adalah bagian otak yang sama ketika kita mengalami sakit pada tubuh fisik kita!
Tidak heran, penolakan memang benar-benar bisa terasa menyakitkan.
Lori Gottlieb, seorang psikoterapis dan penulis buku Maybe You Should Talk To Someone, menduga kemungkinan hal ini sangat berkaitan dengan naluri primitif kita sebagai manusia untuk bertahan hidup. Menurut Lori, manusia saling membutuhkan satu sama lain dan ketika hidup kooperatif, saling menerima dan mendukung, kemungkinan manusia untuk bertahan hidup akan meningkat. Itu sebabnya, penolakan akan melanggar kebutuhan primal itu.
Bagaimana Mengelola Penolakan?
Setidaknya, inilah 3 hal mendasar yang menjadi langkah pertama untuk dilakukan, saat kita merasakan getirnya ditolak:
- TERIMALAH KENYATAAN
Yang membuat banyak orang kesulitan bergumul dengan penolakan adalah adanya ekspektasi / standar nilai yang ia paksakan harus dilakukan oleh orang lain. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang menolaknya, memang tidak seperti yang ia inginkan. Ia tidak bisa menerima bahwa orang tersebut bisa bertindak di luar yang ia inginkan.
Ubah kalimat di kepala yang bunyinya “Dia kan ini itu, harusnya dia gak berhak menolak” atau “Dia kan punya kemampuan dan bisa menolong, kenapa dia nggak mau?”
Alih-alih berkutat di pemikiran “kok bisa begitu”, ubah pikiranmu untuk menerima kenyataan “dia sudah memutuskan menolak, dan itu memang hak dia apapun alasannya”. Saat kamu mulai bisa menerima, kamu akan jauh lebih mudah untuk mengelola penolakan. - GESER FOKUS PIKIRANMU
Berhenti berfokus pada apa yang tak kamu dapat dan semua itu disebabkan karena penolakan orang tersebut. Berhenti fokus pada apa yang sudah kamu beri dan lakukan untuknya di masa lalu. Berhenti fokus pada pikiran kenapa dia menolak.
Mulailah menggeser fokusmu pada pikiran “Apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk membuat keadaan / diri saya, menjadi lebih baik?”
Alih-alih berkutat pada pusaran keruh penolakannya, keluarlah dari pusaran itu dan berpikirlah solutif. - DAUR ULANG RASA SAKITMU
Tentu saja, kadang rasa sakitnya ditolak masih akan tinggal dan muncul. Pada saat itu, kamu akan tergoda untuk kembali terjatuh dalam pusaran pikiran yang sudah kita bahas di poin 2 di atas. Sekalipun perasaanmu terasa sakit, terus paksakan pikiranmu untuk fokus pada solusi, bukan mengasihani keadaan diri.
Sementara itu, lakukan beberapa hal ini untuk meluruhkan rasa sakitmu secara bertahap: bercerita dengan orang yang bisa dipercaya, tuliskan perasaanmu melalui journaling, lakukan aktifitas fisik yang dinamis (olahraga, jalan-jalan di outdoor), bertemu dan bercengkerama dengan orang lain
Menjadi Lebih Baik
Ingat, kamu tak bisa menghindari penolakan. Dan setiap orang punya periode waktu yang berbeda dalam mengelola penolakan.
Jangan berfokus untuk sama sekali tidak merasa sakit saat ditolak. Tentu saja, kamu masih bisa merasakan sakitnya penolakan. Namun dengan mempraktekkan 3 langkah tadi, kita berharap bukan bebas sepenuhnya dari rasa sakit penolakan, melainkan kita menjadi lebih baik di dalam mengelola penolakan.
Kita bisa lebih cepat move on, tidak tenggelam terlalu lama dalam rasa sakit, dan yang terpenting, setiap penolakan membuat kita makin bijaksana dan kuat.
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
