Untuk kebahagiaan, sepertinya quote di atas tidak berlaku.
Menjadi pura-pura bahagia justru membuat kita lebih capek daripada saat kita benar-benar merasa sedih. Kenapa? saat kita sedang berpura-pura, kita sedang menyangkal sebuah perasaan yang seharusnya kita hadapi. Misalnya: saat ada sesuatu yg bikin kita sedih dan ingin menangis, lalu kita malah justru tertawa?
Saat ingin menangis, ya menangis saja. Saat sedang kecewa, ya kecewa saja. Apa mungkin kita takut dibilang gila kalau sedang sedih dan menangis, padahal yang gila adalah mereka yang sebenarnya sedih tapi berpura-pura bahagia dan malah tertawa?
Sepertinya justru akan menjadi sesuatu yang terlihat wajar saat kita dapat memahami kekayaan rasa dan emosi. Manusia tidak dituntut untuk terus-terusan menjadi bahagia. Manusia pun tidak dituntut untuk terus-terusan menjadi sedih. Lantas kalau tidak ada yang menuntut, kenapa manusia sering menuntut dirinya sendiri untuk tampil bahagia di depan orang lain padahal ia sedang merasa sedih?
Tuhan saja tak pernah menuntut manusia untuk harus ini dan harus itu. Ia memberikan free will atau kehendak bebas, termasuk dalam “merasakan”. Coba pikirkan sendiri tentang hal ini: kalau Tuhan menghendaki manusia tercipta dengan satu macam perasaan yaitu bahagia, ya mengapa juga kita yang hidup saat ini tahu rasanya sedih, rasanya kecewa, dan lain sebagainya?
Kalau Tuhan yang Maha segalanya itu menginginkan manusia yang hanya tahu apa artinya bahagia, lalu apa bedanya kita dengan robot atau boneka yang terprogram untuk selalu tersenyum?
Pura-pura bahagia akan membuat kita lelah dan yang namanya kelelahan sering datang karena kita tidak tahu apa artinya istirahat. Beristirahat dari semua yang namanya kepura-puraan sepertinya akan membuat kita lebih sehat. Minimal sehat mental.
Saya terus belajar (gak mudah loh ah!) menghadapi apa yang menyedihkan, menyakitkan, atau mengecewakan. Merasakan kesedihan, lalu memilih untuk bahagia.
Memilih Bahagia
Loh kok, memilih bahagia padahal sedih? Itu sama saja dong dengan pura-pura bahagia!
Buat saya, memilih untuk bahagia dan pura-pura bahagia adalah dua hal yang sangat berbeda.
Saat kita memilih bahagia, kita dalam keadaan sadar akan kejadian yang menyedihkan/kurang menyenangkan itu terjadi. Memilih bahagia adalah bentuk penerimaan atas kesedihan atau kekecewaan atas sesuatu.
Tapi pura-pura bahagia adalah berusaha menutupi atau mengubur segala sesuatu yang tidak menyenangkan tanpa adanya kesadaran untuk mau menerimanya.
Orang yang pura-pura bahagia takkan pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Loh, kenapa? karena saat seseorang selalu berpura-pura untuk bahagia, itu sama saja dengan ia mengandalkan kekuatannya sendiri. Dengan kata lain, pada kenyataannya ia tak mampu bahagia, tapi dengan sekuat tenaga ingin terlihat bahagia.
Kebahagian sesungguhnya justru datang dari orang yang berani mengatakan, “Ya, saya sedang tidak bahagia. Saya sedih karena masalah A, masalah B, masalah C. Tapi saya memilih bersandar kepada Dia yang sanggup merubah apa yang saat ini pahit menjadi manis. Apa yang saat ini terlihat gelap jadi terang.”
Sesaat setelah kita mengakui ketidakbahagiaan kita dan mengandalkan kekuatan Tuhan yang memampukan kita menjadi bahagia meski melewati hari-hari yang suram, maka kebahagiaan terasa lebih alami. Dan akhirnya, tidak perlu yang namanya pura-pura bahagia.
Karena bersama Tuhan,
kebahagiaan itu bukan pura-pura, tetapi nyata.
Ladhriska Putri
Memiliki pengalaman sejak 2013 sebagai kontributor, penyusun naskah acara televisi, penulis artikel, dan editor. Dhriska sangat passionate dengan proses kreatif dalam kegiatan menulis. Salah satunya, saat Dhriska menulis lagu berjudul "Merayakan Benih" yang menjadi salah satu lagu pembangkit semangat bagi mereka yang mengalami kehilangan orang tercinta.
