Pernahkah Anda bertanya, kenapa orang bisa insecure, kuatir berlebihan, takut terhadap hal-hal yang tidak masuk akal, mudah stress untuk hal-hal yang sebenarnya ada solusinya, atau mudah putus asa sampai depresi untuk permasalahan hidup yang umum dialami semua orang?
Singkatnya, kenapa orang bisa memiliki problem-problem emosi?
Sejak saya mempelajari dan mendalami tentang emosi manusia dari tahun 2008, dalam perjalanan pengalaman dan pembelajaran, saya menemukan:
Core atau akar dari problem-problem emosi kita, seringkali sudah dibawa bahkan sejak lahir
KEBUTUHAN EMOSI SEJAK LAHIR
Seorang psikolog bernama Erik H. Erikson mengemukakan bahwa sejak lahir, manusia sudah membawa kebutuhan emosional yang harus dipenuhi dalam perkembangan hidupnya. Jika di masa-masa itu kita tidak mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk sisi emosi kita, maka akan muncul masalah-masalah emosional yang dibawa sampai kita dewasa.
Ambil contoh, menurut Erikson, usia 0-18 bulan, adalah masa dimana bayi belajar untuk bisa percaya. Percaya kepada orang tua sebagai love and care giver, percaya kepada dunia sekitarnya bahwa dunia adalah tempat yang bisa dihidupi, dan percaya kepada orang-orang di sekitarnya.
Salah satu cara bayi dalam mengembangkan rasa percayanya adalah melalui interaksi dengan orang tuanya. Setiap kali ia merasa tidak aman, takut, terancam, atau terganggu, ia akan segera mencari orang tua (terutama ibunya) untuk menemukan ketenangan kembali.
Ketika hal ini tidak terjadi (entah karena alasan apapun), maka bayi akan mengembangkan rasa insecure di dalam dirinya. Jika sampai usia 18 bulan, seorang anak tidak menemukan rasa aman, maka ia akan membawa insecurities itu sampai ia dewasa.
Di sinilah kita akan berjumpa dengan orang-orang yang mudah insecure dengan penilaian orang, mudah curiga dengan orang, mudah was-was akan hal-hal buruk yang bisa terjadi, mudah kuatir ketika mengalami keadaan tidak ideal, mudah takut akan berbagai hal secara berlebihan.
Itu baru 1 contoh dari sekian aspek emosional yang harus dipenuhi dalam proses tumbuh kembang anak sejak ia lahir.
Kita seringkali tidak sadar, bahwa berbagai masalah emosional yang kita alami, seringkali sudah diawali (atau setidaknya, benihnya sudah ditanamkan) sejak kita baru lahir.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
Dalam Kecerdasan Emosi, kita mengenal dengan istilah “Self Awareness”, dimana ini adalah kompetensi paling mendasar kalau kita ingin mengembangkan Kecerdasan Emosi kita. Di dalam Self Awareness ini, kita belajar untuk menyadari bagaimana kondisi internal kita, dan apa pola-pola perasaan yang selama ini beroperasi di dalam diri kita.
Maka, berkaitan dengan pembahasan di tulisan ini, Self Awareness, juga bisa berarti, kita melatih kepekaan kesadaran kita terhadap MENGAPA saya mengalami sebuah situasi emosional tertentu.
Misalnya, ketika kita merasa mudah putus asa setiap kali ada hambatan atau kesulitan dalam hidup. Selain kita bertanya pada diri “Kenapa aku mudah sekali menyerah ya?”, lebih penting lagi untuk bertanya “Dari mana aku mengembangkan sikap mudah menyerah ini?” atau “Sejak kapan aku menjadi orang yang mudah menyerah?”
Dengan menelisik hingga ke masa kecil kita, biasanya, kita akan menemukan titik-titik peristiwa yang menjadi penyebab kenapa kita mengembangkan pola emosional tertentu.
MEMAKNAI ULANG
Apa yang kita lakukan setelah menemukan titik-titik peristiwa itu?
Memang, kita tak mungkin bisa mengulang lagi dan tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengubah kejadian tersebut. Tapi, kita bisa MEMAKNAI ULANG peristiwa itu. Kejadiannya masih sama, pelaku dan efeknya masih sama, tetapi ketika makna dan artinya berubah, maka reaksi emosional kita akan peristiwa itu juga bisa berubah.
Dengan kedewasaan dan pengalaman hidup kita yang sekarang, seharusnya kita bisa memaknainya dengan lebih bijaksana. Setiap kali kita teringat dan memandang peristiwa itu, gunakan perspektif dewasa yang lebih bijaksana. Maknai ulang dengan lebih produktif. Maka, perlahan-lahan, kita sedang menyelesaikan diri kita dengan masa lalu kita dan membuat kita mengembangkan reaksi-reaksi emosional yang lebih baik.
Selamat mencoba!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
