Saya yakin hampir semua orang yang bekerja sebagai pekerja kantoran pasti sering mendengar istilah “budak korporat”. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seorang karyawan yang terlalu mengabdi pada pekerjaan dan perusahaan tempatnya bekerja sehingga tidak memiliki waktu untuk kehidupan pribadinya. Seolah karyawan tersebut “diperbudak” oleh perusahaan, tidak punya hak untuk memutuskan atau menolak sesuatu, apalagi punya kebebasan dalam bekerja.
Memang tidak bisa dipungkiri, ada juga perusahaan yang memiliki budaya kerja tidak sehat. Tidak ada work-life balance, minimnya apresiasi, bahkan sistem “politik kantor” yang kejam. Bukannya memberdayakan karyawan, perusahaan malah memperdaya mereka. Saya tidak jarang juga menemukan ulah segelintir “oknum” pemimpin yang menerapkan prinsip-prinsip “penjajahan” kepada orang-orang yang dipimpinnya. Senioritas yang buruk, kepemimpinan yang otoriter dan lain-lain.
Tapi sebenarnya, faktor terbesar yang membuat seseorang bisa menjadi “budak korporat” bukan karena budaya perusahaan atau pemimpinnya yang tidak sehat. Stephen Covey (penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People) pernah memperkenalkan Prinsip 90/10. Dia menyatakan bahwa:
10% kehidupan ini ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita sedangkan 90% ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi
Artinya, menjadi “budak korporat” atau tidak adalah hasil dari reaksi masing-masing individu terhadap apa yang terjadi saat mereka bekerja.
TANDA-TANDA “PERBUDAKAN” DI TEMPAT KERJA
Selama belasan tahun karir saya, saya pikir saya cukup beruntung memiliki lingkungan kerja yang jauh dari kata “perbudakan”. Namun, butuh waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya saya mengerti prinsip 90/10 dan mengenali seperti apa sebenarnya tempat yang “memperbudak” itu. Saya menyadari ternyata diawal karir saya, saya juga pernah bekerja di tempat tersebut.
Saya tidak menyadarinya saat itu karena saya berasumsi bahwa saya pantas menerimanya. Mungkin karena saya masih fresh graduate, pekerjaan saya yang tidak cukup strategis, saya bukan di posisi manajerial, atau mungkin karena saya tidak cukup baik untuk promosi. Yang lebih buruknya lagi, untuk “mewajarkan” kondisi yang terjadi, sebagai orang percaya Yesus, saya menggunakan “alasan-alasan rohani” seperti bekerja itu harus excellent, tidak boleh hitung-hitungan, bekerja itu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Sehingga apapun perlakuan perusahaan/pemimpin saya saat itu, saya responi dengan tidak bijaksana.
Namun sebenarnya ada tanda-tanda yang jelas apakah perusahaan/pemimpin sedang “memperbudak” atau memang kita yang kurang menghidupi prinsip-prinsip rohani. Kita sebagai orang percaya Yesus harus bisa melihat dan membedakannya. Setidaknya ada 3 tanda sederhana yang cukup jelas:
- Tidak ada batasan dalam bekerja
Budaya yang sering kali dinormalisasi dan dianggap sebagai loyalitas salah satunya adalah mendorong karyawan untuk memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya. Para pemimpin mungkin mendorong diri mereka sendiri sampai kelelahan dan berharap tim mereka melakukan hal yang sama, baik saat bekerja di kantor maupun bekerja dari rumah setelah jam kerja selesai. Mereka ingin karyawan untuk begadang seperti saat mereka bekerja di kantor, menanggapi pesan dan email setiap saat di akhir pekan dan hari libur. - Tidak ada kejelasan peran dan tanggung jawab
Tanpa adanya kejelasan tentang peran dan tanggung jawab menyebabkan karyawan akan dituntut dan dibebankan ekspektasi yang diluar batas. Konflik juga dapat muncul di antara karyawan tentang siapa wajib melakukan apa. - Tidak ada dukungan pengembangan diri dan karir
Perusahaan tidak memberikan dukungan yang membantu karyawan berkembang baik dalam karir maupun pribadi karyawan. Karyawan harus menyelesaikan sendiri masalah pekerjaan mereka, meskipun mereka masih baru di perusahaan tersebut. Mereka tidak diberikan sumber daya yang tepat seperti pelatihan atau pengembangan keterampilan dalam peran mereka.
MENTALITAS HAMBA KRISTUS DALAM BERKARIR
Setelah Anda mengenali tanda-tandanya, sekarang Anda perlu mengetahui cara “bertahan hidup” dalam karir tanpa perlu menjadi “budak korporat” dan menghindari dampak buruk dari perilaku oknum-oknum yang berusaha “memperbudak”.
Mempraktekan sikap melayani seperti Kristus di tempat kerja tidaklah mudah. Namun jika dipraktekkan dengan tepat, ini merupakan salah satu cara efektif agar Anda tetap memiliki hati yang benar dalam berkarir tanpa perlu merasa bingung apakah Anda sedang menjadi “budak korporat” atau menjadi hamba Kristus.
Anda mungkin menganggap hamba sebagai orang yang tertindas, layak menderita, karena Anda mengambil gambaran hamba dari imajinasi yang terbentuk oleh budaya tertentu. Mungkin ini juga yang menyebabkan banyak orang percaya (termasuk saya dulu), tanpa sadar dengan sukarela menyerahkan diri menjadi “budak korporat”. Perlu diingat, Kristus tidak hanya sekadar memanggil Anda untuk menjadi hamba, Dia juga memerdekakan Anda dari dosa sehingga Anda memiliki kebebasan. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Roma 6:8). Inilah yang membuat perbedaan signifikan.
MELAYANI TANPA MENJADI “BUDAK KORPORAT”
Penebusan Kristus membuat Anda bebas dari kuasa dosa. Anda bebas dari kutuk, Anda bebas dari hukuman yang seharusnya Anda terima akibat dosa dan pelanggaran, bahkan Anda bebas untuk menentukan respon dan tindakan Anda dalam berkarir.
Mulailah membuat dan menentukan batasan-batasan Anda dalam karir, tentunya batasan yang dapat menjaga keseimbangan hidup Anda baik secara tubuh, jiwa maupun roh Anda dan sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Batasan akan memberi tahu Anda ketika ada Kebenaran terlanggar. Batasan juga membuat Anda lebih mudah berkata tidak pada hal-hal yang akan “memperbudak” Anda.
Buat dan tentukan juga ekspektasi dan mimpi apa saja yang Anda ingin capai dalam karir Anda. Ini membantu Anda untuk melakukan evaluasi berkala apakah perusahaan tempat Anda bekerja atau pemimpin Anda sesuai dengan ekspektasi dan mimpi Anda.
Bekerjalah dengan excellent, berikan usaha terbaik Anda dalam bekerja. Namun ketika Anda menemukan kondisi dimana batasan yang Anda buat sudah tidak bisa lagi menjaga keseimbangan hidup Anda atau perusahaan dan lingkungan tempat kerja sudah tidak lagi mendukung tujuan karir Anda, tanpa mengurangi kualitas pekerjaan dan nilai diri Anda, ambillah langkah berani untuk berkata “tidak” pada hal-hal tersebut. Tunjukkan bahwa Anda berdedikasi pada pekerjaan dan perusahaan tanpa menghambakan diri padanya. Pilihan di tangan Anda!
Segera daftarkan diri Anda untuk event terdekat!
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
