Pernahkah kamu menyaksikan, orang tua menegur anaknya yang sedang marah-marah dengan kalimat, “Hih… kalo marah gitu anaknya setan lho…” (apakah dia sedang menyebut dirinya sendiri sebagai ‘setan’, karena itu kan anaknya? :p )
Banyak orang yang berpikir, bahwa marah adalah sifat iblis yang buruk dan tidak boleh terjadi sama sekali, sehingga setiap kali seseorang marah, tak peduli apa alasan dan situasinya, dengan segera kita akan menilainya sebagai orang yang buruk dan melekat pada citra memiliki sifat iblis.
Benarkah Marah Adalah Sifat Setan?
Kita seharusnya tidak asing dengan keadaan dimana Tuhan marah. Di Perjanjian Lama, kita akan cukup mudah untuk menemukan saat dimana Tuhan menjadi marah. Sedangkan pada sosok Yesus, ada beberapa peristiwa dimana Yesus menunjukkan kemarahannya. Salah satunya ketika orang Farisi mencobai Yesus dengan sebuah pertanyaan (Markus 3:5).
Jika memang benar, marah adalah sifat iblis, maka Tuhan seharusnya tidak akan pernah marah, bukan?
Di sini kita bisa melihat, ada sebuah kesalahpahaman besar terhadap emosi marah. Kenyataannya, marah, adalah emosi yang paling banyak disalahpahami dibandingkan dengan jenis-jenis emosi yang lain.
Yang pasti, marah BUKANLAH sifat iblis, dan orang yang marah, tidak selalu bisa disebut sedang dikuasai oleh iblis.
Salah Paham Dengan 'Marah'
Marah, adalah salah satu dari sekian banyak emosi alami yang dimiliki manusia. Semua orang bisa marah. Yang membedakan pada akhirnya adalah, kemampuan kita di dalam meregulasi dan mengelola kemarahan itu. Sama seperti semua orang bisa sedih, bisa senang, bisa kaget, dan sebagainya. Dan yang membedakan adalah kemampuan di dalam mengelola semua perasaan itu.
Senang pun bisa menjadi destruktif, jika tidak bisa dikuasai dan dikelola dengan baik. Ada banyak orang yang jadi merusak karena terlampau gembira. Lihatlah anak kecil yang terlalu gembira, karena mereka belum punya penguasaan emosional yang matang, dalam kegembiraan, mereka bisa membanting mainannya, memukul temannya, atau bahkan menjatuhkan diri secara berbahaya.
Jadi, kematangan emosional itu BUKAN soal apa emosinya, tetapi soal BAGAIMANA mengolah dan mengekspresikan emosi itu. Tak terkecuali dengan marah.
Maka, kita tidak bisa mengukur tingkat kedewasaan dan kerohanian seseorang, hanya dari marah atau tidaknya. Banyak orang Kristen yang naif, berpikir bahwa semakin tidak pernah marah, semakin rohani orang itu. Padahal, jika kita paham benar-benar apa itu marah, maka kita akan mengerti bahwa ada keadaan-keadaan dimana marah itu diperlukan.
Memahami 'Marah'
Sejak saya belajar tentang emosi manusia dari tahun 2008, saya menemukan, ternyata marah itu adalah emosi turunan, bukan emosi awal.
Justru marah, adalah emosi yang muncul karena DIAKIBATKAN oleh emosi lain yang muncul lebih dulu. Dengan kata lain, semua kemarahan, ada sebabnya, ada alasannya, dan tidak bisa orang marah tanpa penyebab yang jelas.
Banyak orang merasa marah tanpa tahu sebabnya, tetapi bukan berarti tidak ada penyebabnya.
Dan, seorang pakar emosi bernama Robert Plutchik, dalam teori yang ia kemukakan, menyatakan bahwa orang menjadi marah, ketika ada yang beroposisi kepada dia. Ketika, seseorang diposisikan bermusuhan dengan sesuatu, maka rasa marah akan terpicu.
Dalam pembelajaran saya selama ini, apa yang disampaikan Robert Plutchik, belumlah seluruh penjelasan. Dalam 15 tahun perjalanan, baik mempelajari emosi dari sudut pandang science, maupun dari Alkitab, saya menemukan, bahwa ada 4 alasan utama mengapa seseorang marah:
- Ketidakbenaran
- Kasih
- Terancam / terluka (dipicu rasa takut)
- Pelampiasan
Awalnya, manusia marah karena 2 alasan pertama, which is, itu juga alasan mengapa Tuhan marah. Yaitu ketika melihat ketidakbenaran dan karena kasih. Itu sebabnya marahnya Tuhan berbeda dengan marahnya manusia karena Tuhan marah sesuai dengan jati dirinya sebagai Tuhan yang benar dan pengasih.
Karena Dia menyayangi kita, makanya jika Dia melihat kita melakukan hal yang tidak benar, Dia bisa marah. Mirip seperti orang tua yang marah ketika anaknya bermain benda yang membahayakan dirinya. Orang tua itu bukan marah karena ingin menyakiti anaknya, tetapi justru karena sayang dan ingin menyelamatkan anaknya.
Tetapi, sebagai manusia yang broken dan memiliki tendensi dosa. Ketika kita marah, tidak jarang poin ketiga dan keempat mengkontaminasi dan mendegradasi kualitas marah kita.
Tadinya kita marah karena sayang dan ingin yang benar, tetapi karena adanya perasaan terluka (merasa tidak dihormati, tidak didengar, tidak dihargai, dsb), dan ketidakmampuan dalam mengelola energi marah, jadilah kita mengekspresikan kemarahan sebagai pelampiasan yang bisa berakhir menyakiti orang yang kita marahi.
Problemnya Bukan Di 'Marah'nya
Jadi, sebenarnya yang bermasalah bukan di ‘marah’nya, tetapi di rasa takut yang menyusupi si ‘marah’ dan ditambah dengan ketidakmampuan kita untuk meregulasi diri, membuat marah menjadi destruktif.
Marah, adalah satu diantara 2 emosi yang memberikan energi terbesar (selain cinta). Dorongan energi yang keluar saat marah, memang kuat dan cenderung agresif.
Itu sebabnya, dibutuhkan latihan untuk mengembangkan kemampuan meregulasi marah, agar tujuan awal untuk mengasihi dan menyatakan kebenaran, bisa disampaikan walaupun saat marah.
Saya menyaksikan, justru ketika marah diekspresikan untuk mengasihi dan menyatakan kebenaran, banyak orang berubah hidupnya menjadi lebih baik.
Beberapa anak, memutuskan untuk mau berubah menjadi lebih baik, ketika orang tuanya memarahinya, karena ia tahu orang tuanya marah karena sayang kepadanya, dan ingin dirinya menjadi lebih benar.
Jadi, sudah jelas, marah bukanlah sifat iblis. Malahan, menurut saya, marah, adalah bagian dari natur Tuhan yang Dia turunkan kepada kita.
Makanya, jika melihat sesuatu yang tidak benar/ tidak adil, kita menjadi marah, bukan?
Hanya saja, kita perlu terus memurnikan hati, dan melatih penguasaan diri, agar marah tidak berubah menjadi alat ketakutan dan alat pelampiasan yang merusak dan menyakiti orang lain.
Segera daftarkan dirimu di event terdekat kamu!
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
