“Kamu mau konseling aja nggak?”
Kalau kamu sedang menghadapi permasalahan kehidupan dan mengalami jalan buntu, apa tanggapanmu kepada ajakan di atas?
Sampai hari ini, masih ada banyak sekali stigma, alasan, dan kekuatiran yang menjadi penghambat dan membuat seseorang enggan untuk melakukan konseling sekalipun sedang menghadapi keadaan yang buntu dan sulit.
Beberapa diantaranya adalah:
- Merasa kalau sampai konseling, artinya ia lemah dan gagal, sampai butuh “dinasihati” oleh orang lain.
- Memiliki posisi tertentu yang membuatnya terlihat vulnerable kalau sampai konseling. Ia perlu menjaga citranya sebagai orang yang kuat dan baik-baik saja.
- Kuatir bahwa cerita hidupnya saat konseling, akan menyebar, dijadikan bahan pembicaraan, dan seperti membongkar aib diri-sendiri.
- Merasa diri sudah mengetahui banyak sekali hal, dan merasa sudah tahu petunjuk apa yang akan diberikan oleh konselor. “Paling, nanti dia ngomong begini…”
- Merasa bahwa kalau sampai ia mengalami kebuntuan, pasti tidak ada orang yang bisa menolongnya karena ia yakin dirinya adalah orang yang paling tahu banyak.
Apakah Semua Pendapat Itu Benar?
Tentu saja, memang ada kejadian dimana seorang konselor tidak memiliki kapabilitas yang cukup di dalam memberikan solusi atas permasalahan kita. Mengingat, setiap konselor memiliki level pengetahuan, pengalaman, dan ketajaman yang berbeda-beda.
Dan memang jika kita konseling kepada orang yang tidak tepat, bisa saja cerita kita menyebar kemana-mana. Kekuatiran-kekuatiran itu sebenarnya normal dan wajar, karena memang bisa terjadi.
Itu sebabnya, kita perlu memilih konselor yang tepat, yaitu:
- Konselor yang memang memiliki kualifikasi tertentu dengan background pendidikan atau sertifikasi yang kredibel. Sehingga, selain dibekali oleh knowledge yang cukup, mereka juga setidaknya diajarkan untuk memiliki etika menjaga kerahasiaan dari konseling yang dilakukan.
- Jika konselor kita bukan orang dari background profesional, setidaknya kita mengenali latar belakangnya memang konselor tersebut dikenal memiliki wisdom di bidang yang kita butuhkan, dan memiliki kepribadian yang bertanggung jawab dengan kerahasiaan konseling
- Akan lebih baik, jika kita bisa menemukan konselor yang pernah memiliki pergumulan yang sama dengan kita, sehingga setidaknya, ia bisa memahami pergumulan yang kita rasakan.
Bagaimana dengan kekuatiran untuk terlihat lemah? Itu adalah sebuah konsekuensi yang kita harus hadapi jika kita ingin mendapatkan alternatif jalan untuk ditempuh.
Terbuka pada seseorang mengenai sisi kelam kita, memang mengandung resiko. Itu sebabnya kita meminimalisir resiko dengan memilih konselor yang tepat. Tapi, kita mau tidak mau memang harus menghadapi perasaan terlihat “gagal”.
Itu adalah sebuah persepsi. Anda tidak lemah hanya karena Anda melakukan konseling. Justru sebaliknya, butuh kekuatan dan keberanian untuk membuka diri kepada orang lain.
Memangnya, Harus Banget Ya?
Tentu saja, melakukan konseling atau tidak, adalah pilihan bebas Anda dengan konsekuensinya masing-masing. Tetapi, setidaknya ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan, yang bisa bermanfaat bagi Anda:
- Konseling menolong kita membuka perspektif baru. Seringkali, kita yang sedang ada di dalam pusaran pergumulan, sulit untuk melihat keseluruhan situasinya dengan jernih. Sama seperti pemain sepak bola yang sedang berjibaku di tengah pertandingan. Butuh pelatih yang melihat dari luar lapangan untuk melihat situasi keseluruhannya.
Konselor, akan menolong Anda memberikan persepektif yang mungkin tidak Anda sadari, tidak Anda lihat, atau bahkan tidak terpikir oleh Anda. - Konseling bukan cuma soal mencari solusi. Tetapi juga soal mendapat energi. Jika Anda bertemu konselor yang tepat, energi positif dan wisdom konselor, bisa menjadi “pemecah” energi kalut yang selama ini mencengkeram mentalmu.
Terkadang, hanya dengan bercakap-cakap, curhat dan bertukar pikiran saja, bisa menolong banyak walau belum ada solusi jelas yang muncul. Mengapa bisa demikian? Karena konseling dengan orang yang tepat juga menolong kita keluar dari suasana batin yang penuh tekanan. - Ada keadaan-keadaan dimana kita butuh orang lain. Contoh menarik misalnya, seorang psikolog terkadang butuh psikolog lain untuk mengkonseling mereka.
Mengapa demikian? Bukankah dengan kemampuannya sendiri, seharusnya seorang psikolog bisa menemukan masalahnya dan solusinya sendiri?
Jika menyangkut soal mental, terkadang pikiran kitalah sumber masalahnya. Sehingga kita tidak bisa menggunakan pikiran kita yang sedang tidak fit, untuk membereskan pikiran kita sendiri. Di situlah kita butuh orang lain untuk menolong kita.
Sama seperti dokter tidak bisa membedah dan mengoperasi tubuhnya sendiri, sekalipun dokter itu sebenarnya punya pengetahuan dan keahliannya. Dengan kata lain, ada keadaan dimana kita tak bisa melakukannya sendiri dan butuh pertolongan orang lain.
Jangan Antipati Dengan Konseling
Budaya di Indonesia, memang masih membuat konseling tampak sebagai sesuatu yang cenderung ‘negatif’. Padahal, tidak harus tunggu masalah berat baru terpaksa konseling. Justru sejak awal, lakukanlah konseling supaya masalah tidak menjadi berat.
Anggap saja konseling seperti ngobrol untuk membuka persepktif baru. Jangan terlalu pusing dengan anggapan orang, terutama orang-orang yang memang tak terlalu banyak pengaruhnya untuk hidup Anda. Jika Anda masih ragu, mulailah dengan mencari konselor yang tidak mengenal kehidupan pribadi Anda dan jauh dari lingkaran Anda, atau mulailah dari rekomendasi konselor yang dipercaya oleh orang terdekat Anda.
Jangan Ketinggalan Postingan Terbaru!
Kami menerbitkan artikel baru dengan topik-topik menarik yang relevan untuk hidupmu, setiap hari Senin dan Jumat. Masukkan nama panggilan dan nomor WA kamu (contoh: 089674562345) melalui form berikut ini:
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
