Ok, ini adalah topik yang sulit. Tapi, saya sungguh tertantang untuk membahasnya. Siapkan dirimu, berikan waktu lebih untuk membaca tulisan ini, dan saya berharap di akhir artikel ini, kamu bisa lega memandang Tuhan dan tahu bahwa Dia baik, kasih setia-Nya kekal sampai selama-lamanya.
Bicara Tentang Penderitaan
Saya yakin, tidak ada orang di dunia ini yang ingin dan mau menderita. Kita semua berusaha menghindari penderitaan. Tetapi menariknya, selain realitanya menunjukkan bahwa ada penderitaan-penderitaan yang tak terhindarkan, tetapi juga dunia psikologi menyelidi, bahwa manusia, pada saat-saat tertentu, malah menikmati penderitaan. Ada sebuah istilah yang disebut dengan “painful pleasure”, yaitu kenikmatan yang didapat melalui rasa sakit / menderita.
Bahkan, jika kita sedikit menengok kepada pembahasan soal “victim mentality”, kita akan menemukan bahwa ada orang-orang yang menggunakan penderitaannya, untuk mengais perhatian dan mendapatkan “makanan” emosional dari orang lain, sehingga sekalipun dia tidak menyukai penderitaannya, namun dia juga menikmati penderitaannya. Sebuah ironi yang aneh dan menarik.
Paul Bloom, seorang profesor psikologi dari University of Toronto, secara khusus menganalisa mengapa manusia menyukai kesulitan dan penderitaan, dalam level-level tertentu. Misalnya, rasa sakit dan penderitaan dari melahirkan dan membesarkan anak. Jika itu begitu merugikan, kenapa ada orang yang mau memiliki anak sampai berkali-kali.
Contoh lain, olahraga adrenalin seperti Bunjee Jumping, naik Roller Coaster, dan sebagainya. Bagi beberapa orang, itu menjadi sesuatu yang menyenangkan sekalipun saat dijalani, terasa tidak nyaman.
Yang lebih relate dengan masyarakat Indonesia, adalah nonton film horor. Sekalipun ada yang tidak suka dengan perasaan ketakutan dan dikageti berkali-kali, namun herannya, orang mau nonton film horor lagi dan lagi
Sekalipun penderitaan memang condong dikonotasikan sebagai sebuah masalah dan hal negatif / buruk. Namun Paul Bloom menemukan, bahwa penderitaan tidak selalu berakhir kepada hal negatif atau buruk.
Justru melalui penderitaan, manusia menemukan pertumbuhan dan kebijaksanaannya. Melalui penderitaan, manusia menemukan makna hidupnya. Itulah salah satu kesimpulan riset dari Paul Bloom.
Karena melahirkan dan membesarkan anak begitu sulit dan penuh penderitaan, maka ketika anak tumbuh dengan baik dan berbakti, di situlah kebahagiaan sangat besar didapat. Di balik penderitaan yang besar, tersimpan pula potensi kebahagiaan yang lebih besar.
4 Macam Penderitaan
Seorang Ph.D di bidang psikologi, Mike Brooks, menyatakan ada 2 jenis penderitaan, yang ia sebut penderitaan level 1 dan penderitaan level 2.
Penderitaan level 1, adalah penderitaan yang muncul akibat kondisi alamiah kita sebagai manusia. Misalnya, menua dan menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh kita, itu adalah penderitaan level 1. Atau, misalnya, karena sebagai manusia kita hanya memiliki 2 tangan, sehingga ketika memindahkan barang, kita harus bolak-balik berkali-kali. Penderitaan karena harus bolak-balik ini, diakibatkan karena kondisi kita sebagai manusia yang terbatas. Penderitaan level 1 ini, disebut sebagai penderitaan yang tak terhindarkan. Tidak ada hal yang bisa kita lakukan selain menerima kenyataan. Walaupun pada beberapa kasus, penderitaan level 1 bisa dikurangi atau dikelola, namun pada akhirnya tetap menimpa kita karena kondisi kita sebagai manusia.
Penderitaan level 2, adalah penderitaan yang muncul karena situasi yang dinamis. Misalnya, karena hujan turun, kita jadi kehujanan dan menjadi basah. Atau, misalnya, ketika kita berlari, kita tersandung batu dan kemudian jatuh hingga terluka. Penderitaan level 2 adalah penderitaan yang sebenarnya masih bisa kita cegah atau tangani. Kita masih bisa melakukan sesuatu untuk mengelola penderitaan level 2. Misalnya, dengan menyediakan payung sebelum hujan, memakai jas hujan, atau memiliki mobil. Ada hal-hal yang masih bisa diusahakan agar tidak menderita.
Namun, selain 2 penyebab di atas, saya ingin menambahkan 2 jenis penderitaan lagi. Yaitu:
Penderitaan tanpa alasan. Ada penderitaan yang terjadi, bukan karena salah siapa-siapa, tetapi murni ya terjadi saja atas diri kita. Misalnya, bencana yang menimpa kita. Bukan karena kita tidak berusaha menjaga diri, bukan karena seseorang sengaja ingin melukai kita. Tetapi memang kehidupan memberikan penderitaan kepada kita. Inilah kodrat hidup dalam dunia yang broken oleh dosa. Penderitaan menjadi sesuatu yang menempel pada kehidupan manusia, sekalipun manusia sudah berusaha begitu rupa untuk mencegah berbagai penderitaan.
Lalu, jenis yang ke-4, adalah penderitaan karena ulah sendiri. Which is, ini adalah jenis penderitaan yang sangat umum dan menurut saya, mendominasi sebagian besar hidup kita. Contohnya, karena malas menabung, maka kita jadi mengalami kesulitan finansial. Karena malas berolahraga, otot dan stamina tubuh kita lemah. Karena tidak merencana jadwal dengan baik, maka kita melewatkan banyak kesempatan penting dalam hidup kita.
Dikombinasikan dengan jenis penderitaan yang lain, maka penderitaan yang karena ulah sendiri ini, semakin memperbesar peluang untuk kita bisa jatuh ke dalam hidup yang menderita.
Apakah Tuhan Ingin Kita Menderita?
Setelah panjang dan lebar kita membahas, sampailah kepada pertanyaan kunci ini.
Menjawab pertanyaan ini, akan sedikit mirip dengan menjawab pertanyaan, “Apakah orang tua yang baik, ingin anaknya menderita?” Jawabannya jelas, tentu TIDAK.
TETAPI, terkadang, ada penderitaan YANG DIPERLUKAN untuk dialami, agar seseorang menemukan kebijaksanaan dan makna hidup. Dengan adanya sakit, kita jadi lebih menghargai kesehatan. Dengan adanya sakit, kita menemukan cara-cara hidup yang lebih sehat. Dengan adanya sakit, kita mencoba mencari obat dan cara sembuh. Penderitaan mendorong manusia bertumbuh dan bijaksana.
Itu sebabnya, sekalipun Tuhan tidak ingin kita menderita, tetapi terkadang Dia menahan diri-Nya dan mengijinkan kita mengalaminya. Bahkan, banyak kasus, melalui penderitaan, kita bisa berjumpa dengan Tuhan lebih nyata. Karena saya memiliki keluarga yang broken home, maka saya bisa bersentuhan dengan kasih Bapa di Surga. Karena saya punya banyak problem emosional, maka saya jadi memiliki momen-momen perjumpaan dengan Tuhan dalam proses healing journey saya.
Jika semuanya baik-baik tanpa penderitaan, bisa jadi, saya takkan berpikir untuk meresponi Tuhan. Jika semua baik-baik saja, mungkin saya akan berpikir bahwa saya tidak memerlukan Tuhan. Penderitaan, bisa menjadi jembatan untuk kita berjumpa dengan kebaikan dan kasih-Nya.
Mengapa Dia Tidak Menolong Saya?
Setelah beberapa kali saya mengalami titik-titik terendah dalam hidup. Saya perlahan-lahan mulai mengerti, bahwa cara Tuhan menolong kita, tidak selalu dalam bentuk menghilangkan atau membereskan penderitaan dengan seketika.
Kita seringkali berpikir, bahwa pertolongan Tuhan, selalu berbentuk hilangnya masalah dan penderitaan secara total. Dan hidup kita bahagia sepenuhnya, mulus lancar, tanpa ada hambatan kesulitan setitikpun.
Bukan saja itu tidak mungkin terjadi selama kita masih hidup di dunia (karena tubuh dosa dan dunia yang broken ini memang naturnya adalah penderitaan), namun juga Tuhan tidak selalu menginginkan demikian. Jika semua-semua dibereskan dengan mudah, kita tidak akan belajar dari kesalahan-kesalahan kita (ingat, banyak penderitaan yang disebabkan karena ulah kita sendiri), selain itu, kita akan menjadi orang gampangan yang manja dan apa-apa merengek kepada Tuhan untuk minta dibereskan.
Tuhan ingin kita bertumbuh dalam kedewasaan dan kebijaksanaan bersama dengan-Nya. Itu sebabnya, cara Tuhan menolong, terkadang adalah dengan BERJALAN BERSAMAMU, memberimu kekuatan, memberimu hikmat dan ide untuk melakukan sesuatu. Dia melakukannya bersama denganmu dan melalui dirimu.
Apakah itu artinya Tuhan abai dan senang melihat kita menderita? Jelas tidak. Justru karena Dia peduli kepadamu, maka Dia berjalan menyertaimu, ikut menderita bersamamu, tetapi Dia menguatkan agar engkau mampu melewatinya.
Prasangka Baik
Kesalahan berpikir yang umum adalah, kita seringnya menilai kebaikan Tuhan dari sudut pandang kepentingan dan keuntungan kita sebagai manusia, tanpa mau berusaha memahami apa sudut pandang Tuhan.
Kalau kita menderita, kita langsung menuduh Tuhan jahat. Karena, itu tidak menguntungkan kita (dari sudut pandang manusia kita).
Sehingga kita mudah berprasangka buruk kepada Tuhan. Kita mudah terjebak berpikir bahwa Tuhan ingin kita menderita.
Padahal, Tuhan mengasihi kita. Dia ingin yang terbaik untuk kita. Tentunya terbaik dari sudut pandang kekekalan dan kedaulatan-Nya yang seringkali tak bisa kita pahami (terutama saat kita menderita). Yang pasti, Dia tidak akan pernah meninggalkan dalam keadaan apapun, dan Dia akan menopang kita dalam melewati jalan kehidupan seperti apapun.
Bukan hanya berprasangka baiklah kepada Tuhan, tetapi juga percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu. Dia mengasihimu, Dia ada bersamamu.
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
