Kita semua ingin bekerja bersama seseorang atasan yang suportif dan menyenangkan. Namun, atasan yang paling berdedikasi sekalipun bisa memiliki kelemahannya. Mereka mungkin kurang pengalaman, atau kesulitan memenuhi tuntutan yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin terlihat tidak menghargai, terlalu menuntut, atau tidak hadir saat dibutuhkan. Atau mungkin hanya sekedar tidak cocok dengan kita.
Bekerja dengan atasan yang sulit adalah kondisi yang akan dihadapi banyak orang setidaknya sekali dalam karier mereka. Meskipun tidak mudah menghadapi atasan seperti itu, resign dari pekerjaan tidak selalu merupakan solusi yang tepat.
Mengapa Penting Menemukan Cara Untuk Bekerja Dengan Atasan Yang Sulit?
Namun hubungan yang baik dengan atasan adalah kunci kehidupan pekerjaan yang bahagia. Kunci keberhasilan dan kemajuan dalam karier Anda. Hubungan dengan atasan bisa menjadi satu-satunya hubungan yang paling penting di tempat kerja dan hubungan negatif dengan atasan terkadang dapat berdampak negatif pada hampir setiap aspek kehidupan pekerjaan Anda.
Meskipun respon otomatis pertama Anda mungkin adalah resign, mengatasi situasi sulit sering kali bisa menjadi pilihan paling produktif. Ada beberapa manfaat yang bisa didapat ketika Anda berhasil menghadapi atasan yang sulit:
Mengurangi kemungkinan stres dan penyakit. Bukan rahasia lagi bahwa stres yang terus-menerus dapat menyebabkan masalah kesehatan. Dengan berusaha sebaik mungkin menangani situasi tidak menyenangkan di tempat kerja, Anda dapat mengurangi tingkat stres.
Meningkatkan produktivitas kerja. Sadarkah Anda bahwa sangat sulit berkonsentrasi pada pekerjaan ketika Anda mengkhawatirkan masalah pribadi? Begitu Anda berhenti memikirkan masalah Anda dengan atasan, Anda akan dapat meluangkan waktu dan energi untuk fokus pada pekerjaan Anda.
Strategi Menghadapi Atasan Yang Sulit
Atasan Anda memiliki banyak hubungan kerja yang harus dikelola dan hubungan dengan Anda mungkin tidak termasuk dalam daftar teratasnya. Tapi itu harus menjadi yang teratas pada daftar Anda.
Suka atau tidak suka, mereka adalah atasan Anda dan Anda bertanggung jawab kepada mereka. Bahkan jika Anda berpikir bahwa mereka tidak memiliki kemampuan yang seharusnya dimiliki seorang atasan atau bahwa mereka dipromosikan secara tidak benar.
Tapi ketika Anda menerima kenyataan dari situasi ini, Anda dapat mengambil tanggung jawab untuk membuat hubungan tersebut berjalan baik demi keuntungan Anda juga. Terlebih lagi, mengesampingkan perbedaan kepribadian demi kebaikan yang lebih besar menunjukkan inisiatif dan kecerdasan emosional Anda.
- Pahami motivasi atasan Anda. Memahami mengapa atasan Anda peduli atau tidak peduli terhadap hal-hal tertentu dapat memberi Anda wawasan tentang gaya kepemimpinannya. Misalnya, jika atasan Anda adalah seorang micro manager, hal ini mungkin bukan disebabkan oleh kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan Anda, namun karena adanya tekanan dari atasan mereka untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Carilah titik temu dan identifikasi area yang menyebabkan gesekan. Apa ekspektasi spesifik atasan Anda terhadap Anda terkait pekerjaan dan perilaku? Apakah mereka ingin mengetahui apa yang Anda lakukan setiap saat atau apakah pendekatan mereka lebih bersifat “yang penting beres”? Apakah mereka mengedepankan inovasi dan kreativitas atau lebih suka melakukan sesuatu sesuai aturan?
Perhatikan juga gaya komunikasi atasan Anda dengan cermat. Apakah mereka hanya peduli pada fakta atau mereka mencari opini dan ide dari orang lain sebelum mengambil keputusan? Apakah mereka lebih memilih email atau chat daripada obrolan tatap muka?
Selain mengamati atasan Anda, lihatlah juga kualitas apa yang mereka hargai dari anggota tim yang telah bekerja dengan baik di bawah kepemimpinan mereka dan berusahalah untuk mengembangkannya dalam diri Anda.
- Bicaralah dengan atasan Anda. Jika kondisi hubungan Anda dengan atasan lebih buruk dari sekadar “saya tidak menyukainya” dan itu menghalangi kemajuan Anda di tempat kerja, Anda harus mengambil tindakan nyata. Bicarakan dengan atasan Anda karena mungkin saja dia tidak menyadari bahwa tindakannya berdampak negatif pada pekerjaan Anda.
Atur pertemuan untuk mendiskusikan masalah terkait pekerjaan Anda dengan atasan Anda. Jangan hanya curhat pada rekan kerja, karena hal tersebut bisa memperburuk keadaan.
Meskipun mengungkapkan kejujuran dan keterbukaan di tempat kerja itu penting, tetap bijaksana dan memilih kata-kata dengan bijaksana saat berinteraksi dengan atasan juga penting. Mengatakan hal yang salah pada waktu yang salah, bersikap tidak sopan, atau dianggap tidak sopan dapat menambah permasahalan antara Anda dan atasan.
Jangan berfokus pada kepribadiannya atau masalah dalam hubungan Anda, fokuslah pada topik terkait yang akan membantu pekerjaan Anda. Bersikap asertif dan proaktif akan lebih mungkin mendapatkan rasa hormat dari atasan dibandingkan jika Anda hanya menunggu dan berharap.
Saat Anda meminta bantuan mereka, pastikan Anda dapat mengidentifikasi masalahnya dengan jelas. Jelaskan apa yang telah Anda lakukan sejauh ini untuk mengatasinya dan jelaskan secara spesifik bantuan apa yang Anda butuhkan.
- Mengatasi perilaku sulit atasan dengan fokus pada hal positif
Ada berbagai macam perilaku yang dapat membuat hubungan Anda dengan atasan menjadi sulit. Beberapa bos tidak cocok untuk posisi tersebut karena mungkin mereka dipromosikan karena pengetahuan teknis mereka tetapi tidak memiliki “soft skill” seperti kepemimpinan dan komunikasi.
Jika atasan Anda tidak responsif atau “tidak terlihat”, mungkin mereka kurang percaya diri dalam memimpin tim. Cara terbaik untuk meningkatkan hubungan Anda dalam situasi ini adalah dengan berempati dengan atasan Anda ketika mereka berada di bawah tekanan dan secara aktif menawarkan bantuan Anda.
Namun beberapa perilaku buruk lebih sulit diatasi. Anda mungkin perlu berhubungan dengan atasan yang terlalu menuntut dan terlalu micro manage. Atau dengan atasan yang terlalu bersemangat, yang tidak akan bisa menerima jawaban “tidak” sekalipun kerjaan Anda sudah overload. Dalam situasi seperti ini, hindari konfrontasi. Sebaliknya, lakukan percakapan dengan persiapan yang matang dan jangan menjadikannya masalah pribadi.
Betapapun tidak menyenangkannya seseorang bagi kita, pasti ada sesuatu yang baik dalam diri mereka. Begitu juga dengan atasan Anda. Cobalah untuk memperhatikan sesuatu yang baik pada karakternya, cara kerjanya, atau sikapnya terhadap orang lain. Mungkin atasan Anda memiliki gaya orisinal, dedikasi terhadap tujuan mulia, atau selera humor tertentu.
- Tetapkan batasan tetapi tetap selangkah lebih maju. Bekerja dengan seseorang atasan yang tampak tidak memiliki batasan berarti Anda harus terus maju tanpa berhenti. Misalnya atasan yang gila kerja, sering kali mengharapkan semua orang bekerja lembur atau melakukan pekerjaan dalam jumlah yang tidak masuk akal. Namun, Anda tidak selalu harus menurutinya. Terkadang, tidak apa-apa untuk dengan sopan mengatakan tidak kepada atasan Anda ketika Anda sudah memiliki terlalu banyak pekerjaan.
Terutama ketika Anda berurusan dengan seorang micromanager, salah satu cara menghindari permintaan atasan Anda adalah dengan mengantisipasinya. Selesaikan segala sesuatu sebelum permintaan itu datang kepada Anda. Cara ini dikenal sebagai “micromanaging a micromanager”, selalu lakukan lebih dulu untuk meminimalkan pertanyaan dari atasan yang datang terus-menerus.
Misalnya, Anda sedang mengerjakan presentasi dan Anda tahu atasan Anda kemungkinan besar akan menanyakan progresnya setiap beberapa menit. Pastikan untuk menyelesaikannya lebih awal dan kirimkan ke email mereka beberapa hari sebelum batas waktu. Kemudian, ketika mereka menanyakan hal tersebut kepada Anda, tanggapi dengan kalimat seperti, “Sebenarnya sudah mengirimkan drafnya kepada Bapak/Ibu melalui email.” Semakin sering Anda melakukan ini, pertanyaan-pertanyaan dari para micromanager akan semakin berkurang.
Kapan Resign Bisa Menjadi Opsi?
Ketika Anda sudah mencoba segalanya, Anda telah berusaha memahami atasan Anda, mencoba mengutarakan tentang permasalah dan kebutuhan Anda di tempat kerja dan memberi kesempatan untuk Anda dan atasan Anda belajar dan beradaptasi satu sama lain, namun keadaan masih belum membaik, dan perilaku atasan Anda tetap sama, mungkin inilah saatnya untuk resign.
Berada di lingkungan kerja yang sudah tidak lagi menyenangkan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan tidak ada pekerjaan yang layak untuk menanggung stres dan kecemasan terus-menerus. Selain itu, produktivitas Anda juga mungkin menurun sehingga menyebabkan lebih banyak ketidakpuasan terhadap pekerjaan Anda dan ketegangan dengan atasan Anda.
Terkadang lebih baik berhenti berjuang dan mengubah hidup dan karier Anda untuk mengejar peluang yang lebih baik.
Menghindari Atasan Yang Sulit Di Masa Depan
Jika Anda memutuskan untuk resign, Anda pasti tidak ingin menghadapi situasi di mana Anda harus menghadapi atasan yang sulit lagi. Karena itu, saat melakukan wawancara dengan perusahaan baru, lakukan riset terlebih dahulu untuk memastikan seminim mungkin Anda akan menghadapi situasi dengan atasan yang kurang ideal.
Anda juga bisa menanyakan interviewer dengan mengajukan pertanyaan tentang budaya perusahaan dan gaya kepemimpinan. Jika Anda mengenal seseorang yang bekerja di perusahaan tersebut, ada baiknya Anda mengajak mereka makan siang atau sekedar minum kopi untuk mendapatkan info tentang bagaimana rasanya bekerja di sana.
Kembangkan Kemampuan Kepemimpinan Anda!
Dalam dunia yang tidak ideal ini sulit menemukan pemimpin yang bisa memenuhi semu kriteria seorang pemimpin. Situasi sulit yang Anda hadapi bisa menjadi sebuah kesempatan untuk melatih keterampilan kepemimpinan Anda.
Ambil inisiatif dan buatlah keputusan yang Anda tahu akan membawa dampak positif bukan hanya untuk Anda sendiri tapi juga bagi perusahaan.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
