Siapapun pasti ingin bahagia dalam hidup ini. Namun hal yang membuat bahagia bisa berbeda-beda pada masing-masing orang.
Saat umur 5 tahun, kita mungkin bahagia ketika mendapat sebuah boneka Barbie atau 1 set Lego, yang harganya sekitar ratusan ribu. Saat umur 18, kita ingin diterima di universitas terbaik sehingga kita bisa menjadi seseorang seperti cita-cita kita. Di usia 25 tahun, kita mulai menabung sebanyak mungkin sehingga di usia 30 tahun kita bisa memiliki mobil (untuk dipostingan di Instagram LOL) atau membeli rumah (untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa kita bisa).
Kita terus menginginkan banyak hal untuk membuat kita merasa bahagia. Namun jika kita terus menerus seperti itu, dengan semakin bertambahnya usia kita, maka hidup bahagia akan menjadi sesuatu yang semakin sulit dan tidak lagi sederhana.
Apa Yang Sebenarnya Membuat Kita Bahagia?
Banyak faktor yang menyebabkan munculnya perasaan bahagia dan setiap orang merasa bahagia karena alasan yang berbeda-beda. Inilah yang perlu kita ketahui untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup.
Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan kita sangat terkait dengan kepuasan hidup (Happiness: The Science of Subjective Well-Being by Edward Diener, University of Utah, University of Virginia). Mereka yang merasa puas dengan hidupnya cenderung lebih bahagia, sedangkan mereka yang kurang puas dengan hidupnya baik dalam area sosial, finansial, atau penyebab stres lainnya, cenderung tidak bahagia.
Rasa puas sangat berhubungan dengan batas cukup. Semakin tinggi batas cukup seseorang, akan semakin sulit dia merasa puas dan ini yang menyebabkan semakin sulit juga untuk bahagia. Namun mereka yang memiliki batas cukup yang realistis akan mudah mencapai rasa puas dan untuk merasa bahagia tidak lagi menjadi sulit.
Media Sosial Merusak Rasa Puas Kita
Meskipun banyak dari kita senang terhubung di media sosial dan memang media sosial menawarkan banyak manfaat dalam hal koneksi, informasi, dan hiburan, media sosial juga dapat menciptakan ekspektasi dan perbandingan yang tidak realistis.
Konten-konten di media sosial yang menujukkan sisi “kehidupan sempurna”, memberikan tekanan untuk menampilkan citra diri yang sempurna di dunia maya. Mereka yang terlalu sering terpapar media sosial secara tidak sadar akan mulai membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan yang mereka lihat di media sosial dan akan menimbulkan rasa tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri.
Penggunaan sosial media yang berlebihan berdampak negatif terhadap kebahagiaan
Dampak negatif lainnya adalah adanya fenomena “popularitas palsu” di media sosial, di mana pengguna dapat menciptakan kesan palsu akan kesuksesan atau popularitas melalui postingan yang dibuat dengan apik. Ini dapat menimbulkan perasaan tidak bahagia bagi mereka yang tidak dapat mencapai tingkat keberhasilan yang sama.
Bersyukur Adalah Kunci Kebahagiaan
Dua psikolog, Dr. Robert A. Emmons dari University of California, Davis, dan Dr. Michael E. McCullough dari University of Miami (editor buku The Psychology of Gratitude), telah melakukan banyak penelitian tentang rasa syukur. Dalam sebuah penelitian, mereka meminta semua peserta untuk menulis beberapa kalimat setiap minggunya, dengan fokus pada topik tertentu.
Kelompok pertama menulis tentang hal-hal yang mereka syukuri yang terjadi selama seminggu. Kelompok kedua menulis tentang kejengkelan sehari-hari atau hal-hal yang tidak menyenangkan mereka, dan kelompok ketiga menulis tentang peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi mereka (tanpa penekanan pada hal-hal positif atau negatif).
Setelah 10 minggu, mereka yang menulis tentang rasa syukur menjadi lebih optimis dan merasa lebih baik dengan kehidupan mereka. Yang mengejutkan, mereka juga lebih banyak berolahraga dan lebih sedikit mengunjungi dokter dibandingkan mereka yang berfokus pada sumber kejengkelan.
Pilihan Di Tanganmu!
Pilihan dan tindakan yang kita ambil penting untuk kebahagiaan kita. Kita dapat memupuk rasa bahagia dengan cara mensyukuri dan menghargai apa yang kita miliki. Mengingatkan diri kita akan segala hal baik yang ada pada kita, menuliskannya setip hari dan membagikan rasa syukur kita kepada orang lain. Semakin kita mengungkapkan rasa syukur akan semakin besar kebahagiaan yang akan kita rasakan.
Menjadi bahagia bukan berarti kita harus selalu bahagia. Kebahagiaan bisa naik turun. Namun dengan terus bersyukur akan memberi kita jalan menuju lebih banyak hal positif dan rasa puas.
NEXT EVENT:
Buat kamu yang di Bandung, untuk pertama kalinya kelas Victorious Emotion kami adakan secara onsite di Bandung! Segera daftar karena tiket terbatas.
Friska Setiokoadiputro
Project Director Pemenang Jiwa. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan diri untuk gerakan Pemenang Jiwa, Friska membangun karir profesionalnya di perusahaan financing nasional selama lebih dari 14 tahun sebagai Data Analyst.
