“Keterbukaan Adalah Awal Dari Pemulihan”
Saya yakin, banyak diantara kamu yang membaca tulisan ini, sudah pernah mendengar slogan di atas. Dan tidak ada yang salah dengan slogan tersebut. Memang benar, untuk pulih, kita harus bersedia membuka diri.
Namun, banyak orang kemudian kecewa dan marah karena saat ia terbuka, perlakuan yang ia terima jauh berbeda dari yang ia harap.
Ketika kita terbuka, kita berharap orang bisa mengerti, menerima, dan mencoba menolong kita. Tapi dalam banyak kasus, ketika seseorang terbuka, ia malah dihakimi, disalahkan, dituntut, dan malah dijauhi, dianggap gagal, dan dibuang.
Dalam kasus yang lain, dalam konteks pernikahan, ketika seseorang terbuka menceritakan kesalahan-kesalahannya pada pasangannya. Justru pasangannya terkaget-kaget, shock, dan bahkan hubungan semakin berantakan setelahnya.
Kisah-kisah nyata seperti ini yang membuat orang tidak percaya lagi bahwa keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Beberapa orang lebih memilih menutup saja semua kesalahan, kegagalan, dan masalah hidupnya.
Dimana Letak Masalahnya?
Jika kita mau runut dengan benar, sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah pada keterbukaannya. Seperti yang saya katakan, keterbukaan memang betul adalah awal dari pemulihan.
Kalau kita pergi ke dokter, agar dokter bisa menentukan tindakan dan resep yang tepat, kita perlu terbuka sepenuhnya menceritakan sakit kita tanpa ada yang ditutupi.
Jika kita berkonsultasi dengan psikolog, agar bisa ditentukan metode terapi yang tepat, kita perlu terbuka sepenuhnya apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan tanpa ada yang kita manipulasi.
Jika kita sedang dalam proses pembelaan oleh pengacara di persidangan. Agar pengacara bisa menentukan strategi paling tepat dalam membela, kita perlu terbuka sepenuhnya sebenarnya apa yang terjadi.
Keterbukaan memanglah awal yang penting untuk proses berikutnya.
Yang menjadi masalah adalah keterbukaan kita apakah akan bisa diterima atau tidak. Apakah keterbukaan kita akan disikapi dengan tepat atau tidak. Apakah keterbukaan itu, memang diperlukan atau tidak.
Panduan Praktis Untuk Terbuka
Jangan hidup dalam ketertutupan. Tetapi juga jangan gegabah untuk membuka hidupmu. Setidaknya, inilah 3 pertimbangan yang bisa kamu pakai sebelum memutuskan untuk terbuka pada orang lain:
- Apakah kamu terbuka pada orang yang tepat?
Membuka diri pada orang yang salah, bahkan bisa lebih berbahaya daripada tidak terbuka sama sekali. Temukan orang-orang yang memang kredibel, punya kedewasaan dan kapasitas untuk mendengar situasimu. Jangan sembarangan menceritakan lapisan terdalam hidupmu, apalagi di ruang-ruang publik seperti media sosial, radio, dan media-media curhat yang belum teruji kualitasnya. - Apakah kamu terbuka pada saat yang tepat?
Tidak semua keterbukaan harus dilakukan saat itu juga. Hanya karena dorongan perasaan yang begitu kuat, bukan berarti kamu harus mengikutinya begitu saja. Lihatlah kesiapan orang yang akan menerima keterbukaanmu, lihatlah timing‘nya apakah memang saat yang kondusif untuk membicarakan itu, lihatlah bobot keterbukaanmu, apakah itu akan tepat jika diungkapkan sekarang. - Apakah kamu terbuka dengan cara yang tepat?
Terkadang penolakan terjadi karena ketika seseorang terbuka, ia menambahi dengan menyalahkan pihak lain, menyerang orang lain, mengasihani diri berlebihan, atau menyedot perhatian terlalu besar, sehingga orang kehilangan simpati. Juga, terkadang di dalam terbuka, kita harus bisa melihat sampai di mana batasan kita dalam terbuka. Tak selalu kita harus terbuka sampai dalam di satu saat sekaligus. Mungkin ada situasi dimana keterbukaan kita perlu dilakukan secara bertahap.
Terbukalah Dengan Bijaksana
Jangan tertutup. Penderitaan yang paling berat adalah penderitaan yang dijalani dengan kesendirian. Dan kesendirian, itu sungguh mematikan. Terbukalah, karena memang ada orang-orang yang akan ‘dikirim’ Tuhan untuk menemani dan menolongmu. Tanpa terbuka, mereka tak bisa menolongmu.
Tapi, terbukalah dengan bijaksana, agar keterbukaan sungguh bisa menjadi awal untuk pemulihan hidupmu.
Josua Iwan Wahyudi
Emotional Intelligence Specialist - JIW mendalami tentang emosi sejak tahun 2008 dan mendapatkan sertifikasi sebagai Trained EQ Practitioner dari Six Seconds International. Hingga kini aktif sebagai trainer, coach, dan konselor Kecerdasan Emosi maupun kehidupan pernikahan. Sejak tahun 2006, JIW sudah menulis 46 buku sampai sekarang.
